Oud Batavia. Menyusuri Jejak Kolonial yang Tertinggal.


Lukisan Batavia Tempo Doeloe                Sumber: Wikipedia
Menyusuri jalan-jalan sekitar Kota Tua di Jakarta (Oud Batavia) beberapa waktu lalu, saya coba mengambil gambar gedung-gedung tua peninggalan kolonial Belanda yang berdiri anggun  mulai dari kawasan jalan Majapahit, Gajah Mada hingga pelabuhan Sunda Kelapa. Saya coba  membayangkan seperti apa kira-kira Jakarta Tempo Doeloe. 

Sejumlah bangunan tua masih terlihat berdiri kokoh dan terawat sebagian terlihat kusam dan kumuh di tengah gedung-gedung baru dan modern. Gedung Arsip Nasional merupakan salah satu bangunan tua di kawasan jalan Gajah Mada. 

Gedung bekas kediaman gubernur jenderal VOC Reinier de Klerk dan dibangun di abad ke-18 sempat dipugar tahun 1990-an dan selesai tahun 1998. Hingga tahun 1925, gedung ini dipakai departemen Pertambangan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kemudian, tempat tersebut dijadikan Lands archief ("arsip negeri"), yang setelah Indonesia menjadi gedung arsip nasional. Saat rezim Soeharto berkuasa, terdengar kabar bahwa gedung ini akan diratakan dengan tanah untuk lokasi pembangunan pertokoan di tahun 1990-an. Namun akhirnya bisa diselamatkan dan dipugar oleh sekelompok usahawan Belanda yang peduli akan kelestarian peninggalan budaya ini.


Gambar Musium Arsip Nasional      Sumber: Wikipedia
Namun beberapa gedung peninggalan kolonial ada yang tinggal nama, sebut saja Gedung Harmoni (Societeit Harmonie) yang dulu terletak di ujung jalan Veteran dan Majapahit, kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Gedung ini dibangun tahun 1810 sejak awal diprakarsai oleh Gubernur Jendral Reinier de Klerk tahun 1776. Dulunya gedung ini adalah tempat perkumpulan (societeit) dan pesta orang Belanda. Sayangnya gedung ini diratakan dengan tanah Maret 1985 terkena perluasan jalan.

Mencermati beberapa literatur mengenai perkembangan suatu kawasan dijelaskan bahwa pola perkembangan kota-kota besar biasanya dimulai sejak adanya sarana transportasi baik pelabuhan maupun stasiun. Kota tua pun merupakan lokasi awal perkembangan ekonomi di Batavia tempo doeloe, terutama karena lokasinya dekat pelabuhan Sunda Kelapa yang menciptakan denyut perekonomian yang kuat. Belum lagi keberadaan stasiun Jakarta Kota (dulu dikenal sebagai stasiun Beos) maka tak heran jika perekonomian masa itu terpusat pada daerah tersebut.
Gambar  Gedung Societeit Harmonie        Sumber: Wikipedia
 
Kawasan yang membentang seluas, 1,3 km persegi, melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat dulu sempat dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa.  Wilayah ini dulunya dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.

 
Selain pusat perekonomian, daerah ini juga merupakan pusat pemerintahan kolonial. Tak heran jika gedung pemerintahan kolonial saat itu berdiri berdekatan dengan gedung gedung bisnis. Di kawasan Kota Tua Jakarta terdapat bebeberapa bangunan bersejarah seperti gedung Stadhuis VOC (1707) –kini Museum Sejarah Jakarta; gedung Stasiun BeOS yang dibangun pada 1925; gedung Factorij Nederlandshe Handel Matshappij (NHM) yang dibangun tahun 1929 –kini Museum Bank Mandiri;  Pelabuhan Sunda Kalapa (1527); Jembatan Kota Intan (1628); de Javasche Bank (1828) –kini Museum Bank Indonesia; Toko Merah (1730) serta beberapa gedung bersejarah lain.

Musium Sejarah Jakarta atau sering disebut Musium Fatahillah adalah salah yang paling menonjol dan tertua di kawasan ini. Dari sisi arsitektur sebenarnya masih banyak gedung yang lebih cantik dan anggun. Daya tarik utamanya adalah keberadaan lapangan di depannya yang selalu dipadati ratusan pengunjung hampir tiap hari, terutama hari Sabtu dan Minggu.

Di seputar lapangan itulah berdiri gedung-gedung tua yang sebagian sudah diubah menjadi musium dan cagar budaya. Jalan yang menghubungkan bangunan bangunan di lokasi tersebut dibuat dari paving blok yang terlihat tidak utuh lagi pada beberapa bagiannya. Keberadaan pedagang kaki ikut menyemarakkan sekaligus menambah kesan kumuh dengan sampah-sampah plastik makanan dan minuman berserakan. Gelaran dagangan berderet memadati hampir setiap sudut tempat.


Gedung yang menjadi sentral perhatian ini dikelilingi bangunan-bangunan tua. Di bagian Barat terdapat Musium Wayang, di sebelah Timur adalah gedung pengadilan yang saat ini menjadi Musium Seni Rupa dan Keramik. Di sisi utara adalah Cafe Batavia  dan sebelah Selatan adalah Stasiun Jakarta Kota serta Gedung Musium Bank Indonesia. Diantara bangunan-bangunan tersebut terdapat bangunan lain yang juga memiliki nilai historis.

Musium Fatahilah adalah bangunan berarsitektur neo-klasik yang dibangun tahun 1626 dan kemudian ditambah beberapa bagian pada tahun 1649 dan 1665. Bangunan ini terdiri dari tiga lantai dengan cat kuning tanah yang kian pudar, serta kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. 

Di bangunan museum ini terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan kolonial Belanda untuk mengurung para pelaku kejahatan. Sementara halaman depan musium dulu sering dijadikan arena penghukuman bagi penjahat kriminal masa itu. 

Bila malam mulai menjelang, sorotan lampu dari atap dekat menara dan dari bawah ke atas menambah indah nuansa serta membentuk detil anggun pada tiap lekuk gedung bekas Stadhuis (Balai Kota) Batavia atau merupakan kantor Gubernur Jenderal VOC.

Gedung tua lainnya adalah Musium Keramik berada di sebelah Timur Musium Fatahilah. Gedung berarsitektur klasik yang dibangun pada 12 Januari 1870 oleh Pemerintah kolonial Hindia-Belanda itu awalnya berfungsi sebagai Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia).


Bangunan bercat putih yang didirikan oleh arsitek Belanda Ir. W.H.F.H Van Raders ini saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, itu dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI. Pada 10 Januari 1972, gedung ini dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi. Tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan baru setelah itu dijadikan sebagai Balai Seni Rupa Jakarta.


Untuk ukuran gedung tua, bangunan ini terlihat masih kokoh dengan delapan tiang besar di bagian depan dan tembok tebal.

Masih di seputar kawasan itu terdapat Musium Wayang. Bangunan musium yang berada di sebelah Barat Musium Fatahilah ini awalnya adalah Gereja yang hancur akibat gempa tahun 1818 dan kemudian dikonstruksi ulang tahun 1912 dengan gaya neo rennaissance. Bangunan tersebut dijadikan gudang oleh pengusaha yang kemudian direnovasi kembali tahun 1938 mengikuti arsitektur kolonial Belanda. Di halaman gedung ini terdapat sejumlah kuburan tua, termasuk kuburan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen. Di musium ini tersimpan koleksi beragam jenis wayang seperti wayang kulit dan wayang golek. Musium ini juga menyimpan wayang dan bonaka dari berbagai negara; Malaysia, Thailand, Suriname, Cina, Vietnam, Perancis, India dan Kamboja.

Sementara di bagian Selatan Musium Fatahilah terdapat Musium Bank Indonesia. Bangunan musium ini merupakan perpaduan antara gaya arsitektur klasik dan modern, dan itulah menjadi daya tarik utama museum. Dulu, lokasi museum ini merupakan sebuah bank bernama De Javasche Bank yang dibangun pada 1828. Gedung ini terlihat anggun dan dalam tangkapan lensa terkesan seperti bukan di Indonesia.

Cafe Batavia adalah bangunan kedua tertua setelah Musium Fatahilah dan didirikan antara tahun 1805 - 1850. Bangunan bergaya arsitektur rumah-toko Cina akhir abad ke-19 ini dulunya pernah berubah-ubah fungsi mulai sebagai tempat tinggal, gudang, kantor dan galeri seni. Gedung yang masuk sebagai salah satu cagar budaya ini  terletak Jl. Pintu Besar Utara. Cafe ini tiap hari ramai dikunjungi turis asing maupun domestik yang ingin merasakan suasana kolonial masa itu.

Hampir semua gedung tua di kawasan ini bercat putih atau kuning tanah, dan sebagian sudah terlihat kusam. Di kawasan ini ada satu yang sangat menyolok, yaitu Toko Merah. Gedung berwarna merah bata ini terletak agak sedikit jauh dari musium Fatahillah, berada di seberang Kali Besar. Toko Merah dibangun tahun 1730 sebagai kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750). Gedung ini menjadi landmark kolonial Belanda di kawasan kota tua ini.

Dengan luas 2.471 meter persegi gedung ini sempat menjadi Akademi Angkatan Laut Belanda dari tahun 1743 hingga 1755 dan dikenal sebagai akademi angkatan laut tertua di Asia. Bangunan berarsitektur kolonial Belanda ini kini tetap terawat dan menjadi resto dan cafe.


Sunda Kelapa dan Gudang VOC

Saya menyusuri jalan ke arah utara menuju daerah Penjaringan dan tiba di areal pelabuhan Sunda Kelapa.Turis-turis asing dan domestik terlihat lalu lalang mengambil foto kegiatan bongkar muat barang. 


Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan tertua di Indonesia. Sebelum bangsa Eropa masuk ke Nusantara, Sunda Kelapa sudah menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal asing dari berbagai penjuru dunia. Pelabuhan ini menjadi saksi bisu tumbuh dan  berkembangnya peradaban di tanah air.

Pelabuhan ini mencuat pada abad ke-14 dan semakin terkenal di awal abad ke-16. Sampai saat ini, bekas pelabuhan utama kerajaan Sunda Padjadjaran  yang terletak di Utara Jakarta in masih terus menggeliat. Tiap hari dari pelabuhan ini keluar masuk barang  dari dan ke berbagai penjuru nusantara mengangkut komoditas kayu, sembako, dan barang-barang lain sudah menjadi pemandangan rutin. Barang-barang tersebut diangkut oleh kapal layar motor (kebanyakan jenis Phinisi) yang berderet sepanjang bibir pelabuhan.

Keluar dari lokasi pelabuhan Sunda Kelapa ke arah utara, terlihat gedung bertulisan VOC. Gedung yang terkesan angker tersebut adalah bekas gudang rempah-rempah VOC Belanda. Tidak banyak pengunjung yang datang ke lokasi yang saat ini menjadi Musium Bahari tersebut.

Lokasinya gudang seperti sengaja dibangun berdekatan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, sehingga memungkinkan pengangkutan yang cepat dari gudang ke pelabuhan. Dulunya gudang ini adalah tempat penyimpanan komoditi penting saat itu yaitu rempah-rempah, berupa cengkeh, buah pala, lada, kayu manis, kayu putih, tembakau, kopra, daun teh, biji kopi dan lain-lain diangkut ke Eropa dan beberapa negara lain di dunia. 

Menurut literatur sejarah yang ada, bangunan berlantai tiga itu didirikan tahun 1652 oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda di Batavia. Tepatnya di jalan Pasar Ikan Jakarta Utara, menghadap Teluk Jakarta. Disebelah kanan tak jauh dari gudang induk dibangun menara. Sekarang dikenal dengan nama Menara Syahbandar dibangun tahun 1839 untuk proses administrasi keluar masuknya kapal sekaligus sebagai pusat pengawasan lautan dan daratan sekitar.

Mencermati kondisi bangunan-bangunan tua tersebut,sekilas seperti tidak adanya upaya serius dari pemerintah melakukan pelestarian terhadap aset bersejarah tersebut. Akhirnya lokasi-lokasi tersebut sekedar menjadi tempat rekreasi dan lokasi ajang foto belaka yang karena ketuaannya dianggap sebagai lokasi eksotik. Padahal keanggunan dan kokohnya bangunan-bangunan tersebut menyimpan sejarah kelam bangsa Indonesia. Ratusan bahkan mungkin ribuan kehidupan pada saat itu terampas untuk kepentingan pembangunan sarana kolonial. 

Jika saja semua gedung nantinya harus bernasib seperti gedung Harmoni, apa yang dapat mengingatkan generasi selanjutnya terhadap sejarah kelam yang pernah dialami bangsa Indonesia yang menjadi pondasi kemajuan bangsa saat ini.