Pemilihan kepala daerah atau Pilkada DKI Jakarta putaran kedua akan dilangsungkan. Strategi adu program yang seharusnya lebih menonjol dicoreng dengan terus dimunculkannya isu SARA terutama yang terakhir adalah isu Pribumi dan Non Pribumi oleh pihak-pihak pendukung salah satu pasangan calon (Paslon). Khutbah Jumat di sejumlah masjid pun berbau SARA dan kebencian etnis, seakan menggiring jemaat untuk membenci paslon tertentu.
Miris memang, jika mencermati munculnya kembali isu sensitif tersebut, yang bahkan telah terbukti menjadi catatan hitam sejarah bangsa ini, dengan puncaknya pada kerusuhan Mei 1998. Terlalu mahal harga yang harus dibayar bangsa ini dengan harta maupun jiwa yang hilang sia-sia, karena kebodohan dan ketidaktahuan masyarakat Indonesia sehingga mudah menjadi objek politisasi pihak-pihak yang punya kepentingan dan ambil keuntungan.
Siapa sebenarnya yang disebut pribumi dan apa batasannya? Apakah sepanjang perjalanan bangsa ini masih ada yang benar-benar murni disebut pribumi. Katakanlah suku Betawi, Jawa, Sunda, Minang, Melayu, dll benar-benar memiliki darah murni Indonesia yang lahir dan besar dari darah murni lokal tanpa tercampur. Lalu pertanyaan selanjutnya apa untungnya isu tersebut diagung-agungkan? Ataukah karena bermata sipit lalu dicap sebagai non pri? Lalu bagaimana dengan kulit keling berambut ikal, atau orang berhidung hidung mancung berambut kriting?
Saya tidak berniat menjelaskan detil masalah siapa sebenarnya pribumi dan nonpribumi saya hanya ingin membahas bagaimana keragaman suku dan etnis yang ada di Indonesia berproses membentuk kultur dan menjadi sebuah berkah dan rahmat bagi bangsa Indonesia.
Namun untuk menyambung dengan isu, saya perlu sedikit gambarkan bahwa wilayah yang kini bernama Indonesia ditempati oleh Homo Erectus yang datang dari Afrika 1,7 juta tahun lalu dan punah 100.00 tahun lalu. Kemudian disambung dengan datangnya Homo Sapiens (Melanesia) dan berlanjut dengan datangnya Homo Sapiens Melayu Astronesia) yang menjadi asal usul penduduk lokal atau pribumi.
Seiring dengan waktu, peradaban mereka pun berkembang dan menjalin hubungan dengan pendatang-pendatang baru. Kemudian sejak awal masehi hingga abad ke-5 penduduk lokal tersebut di atas telah mengalami proses percampuran baik dari sisi etnis maupun budaya saat pendatang dari India dan Cina dengan budaya Hindu dan Budha masuk ke Nusantara dan berakulturasi dengan penduduk pribumi/lokal akhirnya membentuk budaya Indonesia-Hindu/Budha.
Berabad abad kemudian ketika pedagang Gujarat, Arab dan Cina membawa Islam masuk dan bertemu dengan budaya Indonesia Hindu yang ada di Indonesia. Pertemuan budaya berlangsung dalam suasana kondusif dan damai sehingga proses akulturasi tersebut melahirkan budaya Indonesia Islam. Kerajaan Indonesia Hindu pun beralih menjadi kerajaan Indonesia Islam.
Semua berlangsung damai dan harmonis menyiratkan bahwa kerajaan Islam masa lalu masih menghargai keberagaman dengan tidak serta merta menghancurkan budaya dan kepercayaan yang ada sebelumnya, sebaliknya memadukannya. Ini terlihat dari bangunan-bangunan masjid yang secara arsitektural merupakan paduan Hindu dan Islam. Bahkan dalam kesenian pun dipadukan sehingga munculah wayang kulit.
Wiyoso Yudhoseputro dalam Jejak-Jejak Tradisi Bahasa Rupa Indonesia Lama menjelaskan bahwa sintesa budaya Islam dan Hindu Jawa terlihat pada arsitektural masjid dan makam seperti masjid di Banten, Cirebon, Demak, Kudus Jepara dan Tuban yang didirikan oleh para wali (yang juga sebagian adalah orang keturunan Cina). Struktur bangunan menggunakan batu-bata sebagai peninggalan Majapahit Hindu masih dipertahankan raja-raja Islam di Jawa. Ada semangat yang sifatnya adaptif dan damai sehingga menciptakan suatu sintesa budaya yang bernilai tinggi dan klasik.
Seperti juga etnis Arab, etnis Cina telah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia. Budayanya memberi pengaruh dan menambah kekayaan khazanah budaya Indonesia, seperti pada suku Betawi contohnya.
Masyarakat atau suku Betawi merupakan campuran aneka suku dan etnis yang didatangkan Belanda ke Batavia seperti Cina, Arab, dan Portugis, dan Melayu penyebutan suku betawi lebih didasarkan pada lokasi mereka tinggal saat itu. Dengan latar belakang yang multi etnis tersebut maka pengaruh budaya pendatang tersebut sangat terlihat pada budaya Betawi saat ini.
Pengaruh budaya Cina misalnya terlihat pada pakaian adat, kesenian, makanan, bahkan bahasa. Perhatikan pakaian pengantin wanita yang memiliki betawi yang kental dengan budaya Cina zaman dinasti Tang. Kebaya encim maupun baju koko juga tak lepas dari pengaruh Cina. Kata-kata ‘lu’ ‘gue’ ‘Cepek’, ‘Gocap’ merupakan serapan dari bahasa Cina yang sudah dianggap sebagai tradisi orang Betawi berpadu dengan serapan dari bahasa Arab seperti “ente” “ane”, Dalam kesenian, Gambang Kromong juga menggunakan nada pentatonik Salendra diserap dari tradisi kesenian Cina.
Lalu budaya Arab juga diserap misalnya dengan alat musik Rebana baju gamis yang kerap digunakan masyarakat betawi, lalu ada Tanjidor yang dipengaruhi budaya Eropa (Belanda) serta Keroncong dari Portugis. Ini menyiratkan betapa perbedaan budaya tersebut melebur dalam keharmonisan bahkan sudah menjadi ciri atau identitas masyarakat Betawi yang indah sulit dipisahkan.
Sayangnya politik seringkali menjauhkan masyarakat untuk melihat sejarah dan realitas yang ada sehingga terjadi gap budaya dan membuat sempit cara pandang generasi saat ini.
Kini pembodohan menggunakan isu SARA serta etnis sedang kembali dilakukan pihak-pihak tertentu. Kalau mau belajar, isu ini seharusnya sudah selesai saat presiden Soeharto lengser dan berharap masyarakat menyadari betapa sensitif dan merugikan masalah SARA yang didengungkan untuk kepentingan politis sesaat.
Sebaiknya para ulama maupun para pemuka masyarakat dapat mengajak masyarakat pemilih untuk berpikir positif dan logis meskipun terkadang unsur primordialisme tersebut sulit dihilangkan. Namun setidaknya dapat membatasi diri untuk tidak memperuncing dikotomi Pribumi dan Non pribumi seperti terdengar dalam minggu terakhir menjelang Pilkada di Jakarta, dimana hampir semua masjid di kampung-kampung memberikan khotbah politis dengan bumbu SARA yang kental.
Satu yang patut dipercaya adalah masa sekarang dibangun dengan landasan sejarah masa lampau. Kebudayaan yang ada saat ini tidak pernah ada tanpa kebudayaan masa lalu. Sifat toleransi dan adaptif yang dimiliki bangsa inilah yang sebenarnya menjadi inti terjadinya perkembangan budaya hingga sekarang ini dan sejatinya membentuk apa yang dikatakan sebagai budaya Indonesia.
Maka syukurilah semua perbedaan dan keragaman yang ada sehingga mampu membentuk pondasi kuat bagi pembangunan generasi bangsa ini selanjutnya. Atau bangsa ini akan kembali pada masa kelamnya yang penuh pertikaian bahkan pertumpahan darah hanya karena kepentingan golongan yang sifatnya sesaat.
Jadi kalau masih ada yang mau klaim sebagai pribumi tulen, silakan cek DNA dan ambil sampel ke Sangiran. Cuma itu yang diperlukan.
