Teknologi komunikasi dan informasi memiliki akselerasi tinggi dan mempercepat perubahan pola berkomunikasi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Bila 10 tahun lalu informasi diperoleh dari sumber-sumber konvensional (istilah untuk membedakan lama dan baru) seperti surat kabar, majalah, buletin ataupun jurnal cetak, kini hanya dengan meng-klik, maka semua informasi dapat langsung diterima melalui beragam gadget yang memiliki akses langsung ke internet. Berita-berita dan info terkini, paperless, dapat muncul bahkan dalam hitungan menit.Kasus penarikan paksa penumpang pemegang tiket United Airlines oleh petugas perusahaan tersebut merupakan contoh, betapa dahsyatnya penggunaan media sosial dalam mempengaruhi opini. Bukan saja lokal, namun secara global. Hanya dalam hitungan menit dan jam, meruntuhkan reputasi maskapai penerbangan sekaliber United Airlines. Harga sahamnya langsung anjlok. Ketidakpercayaan masyarakat kian meluas yang sifatnya multi isu. Termasuk isu rasisme.
Betapa waktu dan jarak kian tak berbatas.
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menciptakan kultur baru di masyarakat melalui penggunaan internet. Internet menciptakan hubungan virtual, baik melalui situs situs pribadi, institusi, maupun jejaring sosial.
Media sosial dan jejaring sosial seperti Twitter maupun Facebook kini menjadi suatu hal yang lazim dimiliki masyarakat, terutama kelas menengah ke atas dan saat ini seringkali dijadikan source of information yang potensial di-follow up oleh media dan beberapa dipercaya oleh masyarakat. Demikian pula Blog dan Situs berita menjamur sedemikian cepat dan melahirkan beragam informasi
Paradigma dalam dunia teknologi komunikasi ini tentu saja berimbas pada berbagai bidang industri, termasuk Public Relations. Imbasnya terutama pada pola interaksi dengan audience baik internal maupun eksternal perusahaan.
Data yang ada menyebutkan terdapat perubahan yang sangat drastis lebih dari 19.5 juta blog aktif di seluruh dunia. Memang data ini tidak menyebutkan data mengenai pertumbuhan blog di Indonesia, namun hal yang sama dapat diasumsikan juga terjadi di Indonesia.
Jennifer Gehrt and Colleen Moffitt (w/ Andrea Carlos) dalam bukunya Strategic Public Relations: 10 Principles to Harness The Power of PR menyebutkan, “The Internet is keeping everyone on their toes with trends changing every day. To keep up there has to be constant research, leverage, and understanding of why something becomes a trend, and how to use them to your advantage…”
Bayangkan jika institusi penting seperti perbankan mendapatkan isu yang potensial mengakibatkan rush. Atau perusahaan minuman terkenal misalnya diisukan tercemar bahan atau materi berbahaya. Semua informasi tersebut sangat mungkin sampai ke publik melalui gadget mereka hanya dalam hitungan menit.
Dapat diperkirakan seperti apa reaksi pasar yang akan terjadi. Meskipun ada yang mengatakan bahwa masih banyak orang yang skeptik menanggapi rumor atau isu melalui sumbersumber non konvensional ini, tetap saja bagi perusahaan, terutama PR Profesional, hal ini harus dicermati dan ditindaklanjuti secara tepat.
Lalu bagaimana PR Profesonal menyikapi dunia yang kian cepat terhubung ini. Akankah sikap tradisonal masih dapat bertahan? Jawabannya tentu saja tidak mungkin. Perlu diingat, bahwa isu atau potensi krisis dapat muncul dalam waktu yang singkat mengingat kecepatan arus informasi saat ini.
Memang sejauh ini sejumlah perusahaan sudah memiliki Standard Operating Procedure (SOP) penanganan isu. Namun sepertinya SOP tersebut memerlukan penyesuaian terhadap perkembangan teknologi komunikasi yang kian pesat ini.
Beberapa hal penting (tidak semua) dalam penanganan isu adalah sebagai berikut:
1. Waktu merupakan faktor krusial penanganan krisis maupun isu saat ini. Semakin cepat informasi mengenai potensi isu didapat, langkah penanganan dapat segera dilakukan.
Hal ini dimungkinkan jika PR Profesional memiliki koneksi dan akses ke sumber-sumber berita yang jauh-jauh hari sudah diidentifikasi sebagai salah satu target untuk dimonitor. Setidaknya, dari mereka akan diperoleh background story dari berita yang muncul. Ini penting untuk lebih cepat menembak pangkal masalah ataupun melakukan fact findings jika memang diperlukan. Dengan data-data yang ada, seorang PR Profesional dapat mengambil langkah awal sebelum langkah korporasi dilakukan. Paling tidak ada upaya membatasi pengembangan isu yang lebih merusak reputasi (limit the potential damage).
2. Hubungan antar pihak yang berkepentingan dalam perusahaan, termasuk legal, corporate secretary dan PR harus dibangun sedemikian rupa sehingga tercipta koordinasi yang siap setiap saat. Ini sangat memungkinkan dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi yang ada.
Dalam situasi sekarang PR Profesional dituntut untuk lebih eksis serta membangun hubungan yang lebih dari sekedar mutualis dengan media-media baik konvensional maupun online yang berpengaruh namun juga yang sifatnya intelektual. Bukan sekedar membina hubungan yang sifatnya entertaining --seperti biasa dilakukan praktisi PR saat ini.
Sehingga merupakan keharusan bagi PR Profesional untuk lebih proaktif dalam forum-forum penting di Twitter, blog-blog berpengaruh ataupun forum diskusi yang memiliki interest yang sama, atau sering mengangkat topik dan isu yang relevan dengan bisnis perusahaan ataupun industri terkait.
Terlibat dalam forum diskusi dengan figur-figur penting yang berpengaruh (influencial figures) dalam banyak kasus memiliki keuntungan tersendiri, terutama untuk memberikan endorsement jika diperlukan. Hal ini hanya mungkin jika terbangun trust dan kredibilitas antara PR Profesional dan figur-figur tersebut (Personable).
Bagi PR Profesional terlibat lebih dekat dengan Media Sosial dan jaringan media sosial memiliki sejumlah keuntungan. Antara lain dapat tetap up-to-date dengan tren dan teknologi, serta mengetahui siapa saja yang menggunakan media sosial tersebut. Bagi perusahaan upaya ini dapat menjaga objektivitas usaha. Dan yang terpenting dapat mengantisipasi jika ada sesuatu yang tidak beres terkait misalnya dengan isu-isu atau rumor yang muncul dan perlu disikapi. (Preemptive action)
Untuk itu, ada baiknya bagi perusahaan maupun PR Profesional untuk terus meningkatkan kemampuan dirinya, karena perkembangan teknologi saat ini sudah tidak memiliki stagnasi maupun jeda yang terlalu lama. Sangat mungkin akselerasi ini justru makin mempercepat pola perubahan komunikasi yang saat ini sudah terjadi. Dengan demikian, mereka yang updated-lah akan selalu berada di depan, tentunya dengan selalu menyesuaikan pola komunikasi yang baru. Paradigma PR pun akan selalu berubah.
Hal ini dimungkinkan jika PR Profesional memiliki koneksi dan akses ke sumber-sumber berita yang jauh-jauh hari sudah diidentifikasi sebagai salah satu target untuk dimonitor. Setidaknya, dari mereka akan diperoleh background story dari berita yang muncul. Ini penting untuk lebih cepat menembak pangkal masalah ataupun melakukan fact findings jika memang diperlukan. Dengan data-data yang ada, seorang PR Profesional dapat mengambil langkah awal sebelum langkah korporasi dilakukan. Paling tidak ada upaya membatasi pengembangan isu yang lebih merusak reputasi (limit the potential damage).
2. Hubungan antar pihak yang berkepentingan dalam perusahaan, termasuk legal, corporate secretary dan PR harus dibangun sedemikian rupa sehingga tercipta koordinasi yang siap setiap saat. Ini sangat memungkinkan dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi yang ada.
Dalam situasi sekarang PR Profesional dituntut untuk lebih eksis serta membangun hubungan yang lebih dari sekedar mutualis dengan media-media baik konvensional maupun online yang berpengaruh namun juga yang sifatnya intelektual. Bukan sekedar membina hubungan yang sifatnya entertaining --seperti biasa dilakukan praktisi PR saat ini.
Sehingga merupakan keharusan bagi PR Profesional untuk lebih proaktif dalam forum-forum penting di Twitter, blog-blog berpengaruh ataupun forum diskusi yang memiliki interest yang sama, atau sering mengangkat topik dan isu yang relevan dengan bisnis perusahaan ataupun industri terkait.
Terlibat dalam forum diskusi dengan figur-figur penting yang berpengaruh (influencial figures) dalam banyak kasus memiliki keuntungan tersendiri, terutama untuk memberikan endorsement jika diperlukan. Hal ini hanya mungkin jika terbangun trust dan kredibilitas antara PR Profesional dan figur-figur tersebut (Personable).
Bagi PR Profesional terlibat lebih dekat dengan Media Sosial dan jaringan media sosial memiliki sejumlah keuntungan. Antara lain dapat tetap up-to-date dengan tren dan teknologi, serta mengetahui siapa saja yang menggunakan media sosial tersebut. Bagi perusahaan upaya ini dapat menjaga objektivitas usaha. Dan yang terpenting dapat mengantisipasi jika ada sesuatu yang tidak beres terkait misalnya dengan isu-isu atau rumor yang muncul dan perlu disikapi. (Preemptive action)
Untuk itu, ada baiknya bagi perusahaan maupun PR Profesional untuk terus meningkatkan kemampuan dirinya, karena perkembangan teknologi saat ini sudah tidak memiliki stagnasi maupun jeda yang terlalu lama. Sangat mungkin akselerasi ini justru makin mempercepat pola perubahan komunikasi yang saat ini sudah terjadi. Dengan demikian, mereka yang updated-lah akan selalu berada di depan, tentunya dengan selalu menyesuaikan pola komunikasi yang baru. Paradigma PR pun akan selalu berubah.