Public Relations dan Wartawan




Saat ini banyak wartawan yang beralih profesi menjadi Public Relations, baik sebagai internal PR officer di lembaga dan perusahaan ataupun sebagai konsultan di agensi PR. Mereka umunnya “dibajak” oleh perusahaan maupun agensi PR untuk bergabung. Beberapa ada yang sukarela bergabung. Tingkat senioritas mereka di media pun menjadi nilai tambah tersendiri untuk nilai jual posisinya di perusahaan tersebut.

Dari pengalaman saya dari seorang wartawan menjadi seorang PR, ternyata sulit mengubah mindset menjadi seorang PR atau konsultan PR.  Apalagi mereka yang sudah berkecimpung dalam dunia media bertahun-tahun. Bagi saya setidaknya butuh waktu kurang dari setahun untuk melakukan penyesuaian terutama dari cara berpikir.

Perbedaan antara PR profesional dan wartawan sangat jelas dari sisi output. Jika wartawan output-nya berupa tulisan, maka PR bisa beragam, baik berupa, press release, assessment ataupun rekomendasi untuk melakukan rencana aksi korporasi. Sementara ditinjau dari sisi keberhasilan, kesuksesan kegiatan PR itu dilihat dari adanya perubahan ataupun peningkatan persepsi ke arah yang lebih positif dari publik atau audience yang dituju. Hal ini dapat dilakukan melalui survey persepsi. Jadi jelas disini PR bertanggungjawab untuk menciptakan suatu perubahan persepsi ke arah yang lebih favorable dari suatu lembaga/perusahaan. Sementara kesuksesan seorang wartawan adalah jika tulisannya muncul di media dan dibaca khalayak pembaca.

Perbedaan lain menurut Ashley Wirthlin dalam tulisannya The Public Relations Book . A Guide to Public Relations Best Practices, Social Media, and PR Careers , wartawan menulis tentang perusahaan dan PR sebaliknya meminta wartawan untuk menulis tentang perusahaan atau institusi.

PR Profesional sendiri menurut Ashley memerlukan hal-hal tersebut di bawah ini:
1. Excellent writing skills. Menulis merupakan bagian terbesar dari   pekerjaan PR; press release, blog post, pidato, semua dasarnya adalah tulisan. Semua yang dilakukan dalam PR terkait dengan tulis menulis, jadi Profesional PR harus mahir dalam bidang ini.
2. Personable. Secara personal pentinguntuk terhubung dengan publik, media dan pembeli
3. Attentive. Lebih detil dalam memperhatikan, emosi dan keseluruhan yang ada di sekitarnya.
4. Understanding. Ini sejalan dengan hal di atas; jangan menekan   customer, mengerti kebutuhan mereka dan kebutuhan media saat bicara dengan mereka.  Mengerti cara perusahaan bekerja untuk mempengaruhi komunitas yang secara luas.
5. Common sense.  Ini diperlukan pada seluruh aspek usaha, terlebih lagi     dalam PR. PR Profesional adalah wajah perusahaan atau dalam beberapa kasus merupakan pekerja “di belakang layar” yang membantu membentuk wajah/tampilan perusahaan, untuk menyiapkan pidato, press conference, wawancara dll. PR Profesional perlu memperhatikan apa yang mereka katakan dan bagaimana mereka mengatakan dan menyadari bahwa semua mata memandang mereka dan para eksekutif yang mereka bantu.

Dari uraian di atas jelas bahwa kegiatan PR hampir sama dengan wartawan, yaitu sama-sama menulis. Selanjutnya, baik wartawan dan PR dasarnya adalah fakta.  Dan ini merupakan nilai tambah tersendiri bagi wartawan yang terjun ke dunia PR. Hanya saja seringkali kebiasaan (manner) sebagai wartawan masih sering terbawa, terutama dari sisi pola berpikir, maupun yang lebih jelas, dari sisi penampilan.

Apapun itu, sebenarnya sangat mudah bagi wartawan untuk dapat berkarir di dunia Public Relations, terutama dengan kemampuan menulis dan menganalisa serta hubungan dengan beragam pihak. Bagaimana mengubah mindset yang dimiliki  tergantung kemauan si wartawan untuk berubah.