Public Relations di Indonesia


Di Indonesia, Public Relations (PR) sering kali diartikan secara sempit. Seseorang  melakukan pekerjaan mengundang wartawan atau press conference acap menyebut dirinya seorang PR. Event organizer pun tak jarang mencantumkan pekerjaan PR pada company profile nya. Bahkan perusahaan periklanan terkadang rancu dengan perusahaan PR.

Meski sudah dikenal lama, PR secara profesional di Indonesia mulai tumbuh sekitar tahun 90 an. Di tanah air PR sering disebut Humas (Hubungan Masyarakat). Namun terkadang terminologi Humas cenderung digunakan untuk kegiatan PR yang dijalankan secara internal oleh perusahaan atau lembaga. Sementara 'PR' lebih banyak digunakan oleh agensi profesional. 

Lalu bagaimana pekerjaan Public Relations yang sebenarnya?

Pekerjaan PR sejatinya adalah melakukan analisa, menulis dan menyusun konsep, bahkan melakukan riset ataupun survey. Seorang PR dituntut untuk memiliki kemampuan analisis, menulis dan menyusun konsep komunikasi yang kuat, karena pada dasarnya itulah pekerjaan PR yang kemudian dituangkan dalam program/kampanye PR.

Dengan kemampuan tersebut, seorang PR profesional dapat menyusun tujuan, strategi, taktik dan kegiatan PR atau komunikasi yang baik dan efektif.

Adapun kemampuan dalam media relations, merupakan salah satu skill  yang melengkapi keampuhan profesional PR untuk menunjang keberhasilan program PR secara keseluruhan. Banyak keterampilanlain yang digunakan oleh PR untuk mencapai keberhasilan program atau kampanye yang dijalankan, seperti; Government Relations, NGO Relations, ataupun menulis press release,

PR tidak dapat ditinjau secara parsial dari sisi media relations ataupun dari salah satu tools tersebut di atas semata. Kedekatan seorang PR dengan media ataupun audience lain merupakan suatu keharusan bahkan merupakan nilai tambah. Dan keahlian tersebut  memang, membutuhkan seni tersendiri dalam melakukan pendekatan dengan media yang tidak didapat dari buku-buku teks, tetapi dari pengalaman.


Kondisi tersebut di atas memang banyak terjadi mengingat selama ini  perusahaan atau lembaga menyewa PR agency untuk sekedar mengundang wartawan, melakukan press conference ataupun kegiatan PR lainnya secara parsial.  Terkadang untuk kepentingan yang sifatnya mendadak dan mendesak karena institusi atau perusahaan tersebut sedang menghadapi krisis atau isu. Di sini fungsi PR akhirnya menjadi sekedar fire extiguisheratau pemadam kebakaran. Tidak lebih.

Tak heran karena sifatnya yang dadakan atau temporer, banyak perusahaan yang merasa tidak memperoleh manfaat banyak dari  kegiatan PR yang mereka lakukan.

Kegagalan tersebut lebih karena yang mereka sebut “PR” tersebut memang tidak memiliki benang merah dengan kebijakan institusi atau perusahaan. Dengan demikian tidak ada kesinambungan atau sustainabilty dalam kegiatan PR secara keseluruhan.

Artinya, sulit untuk mengukur tingkat keberhasilan PR melalui kegiatan yang bersifat parsial. Lain halnya jika keberhasilan kegiatan cuma diukur dari banyaknya wartawan yang hadir ataupun liputan yang diperoleh (hal ini seringkali terjadi).

Padahal keberhasilan PR secara utuh diukur dari tingkat persepsi publik, baik melalui survey ataupun audit komunikasi. Jika pada akhir program hasil survei menunjukkan adanya kenaikan positif pada tingkat persepsi, maka dapat dikatakan bahwa program PR yang dijalankan sudah tepat. Sebaliknya demikian.

Alat ukur lain yang sudah banyak digunakan antara lain Google analytic (untuk institusi yang yang aktif di media sosial), untuk melihat tingkat trafik suatu perusahaan melalui keyword yang diberikan,  yang pada gilirannya dapat digunakan untuk mengukur ROI (Return on Investment) suatu kegiatan PR.

Lazimnya, untuk sebuah korporasi, program PR seharusnya sudah menjadi bagian yang integral dari perusahaan. Dengan demikian, program PR disusun secara strategis dan diimplementasikan secara menyeluruh dan terintegrasi.

Bukan itu saja, program PR yang terencana secara strategis dapat meminimalisir serta mengantisipasi dampak yang muncul akibat munculnya isu maupun  potensi krisis yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan lebih jauh (Preemptive).

Memang penggunaan jasa PR sebaiknya dilandasi adanya kebutuhan secara utuh dan tidak bersifat parsial. PR memiliki peran yang signifikan dalam menunjang  kinerja perusahaan terutama untuk membentuk persepsi publik yang favorable terhadap perusahaan atau institusi.

Ashley Wirthlindalam bukunya: The Public Relations Book . A Guide to Public Relations Best Practices, Social Media, and PR Careers mengatakan;Public Relations has many roles within a business, but the most important may be that it serves as an outlet and tool for shaping an image, whether it be for a company or an individual.

Ada dua alasan yang sering mengemuka mengapa perusahaan memilih untuk tidak mengimplementasikan program Public Relations secara menyeluruh, baik secara internal maupun lewat agensi PR.

Pertama, alasan bujet. Terkadang perusahaan lebih mengalokasikan bujet untuk iklan di media daripada PR. Padahal tingkat efektivitas dan efisiensi PR  baik dari sisi pengaruh dan biaya justru lebih baik jika dimplementasikan dengan benar.

PR memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi karena semua data merupakan fakta dari perusahaan atau institusi dan fakta yang ada di luar perusahaan, sementara iklan bersumber dari perusahaan itu sendiri yang sering ditampilkan secara hiperbolik.

Kedua, seringkali dipertanyakan apakah di akhir program, PR dapat langsung meningkatkan penjualan/sales. Maka tak jarang muncul salah pengertian terhadap fungsi PR  dengan mempertanyakan  dan mencemooh perlunya PR, terutama perusahaan yang sudah merasa mapan dan memiliki profit penjualan yang tinggi.

“Tanpa PR kita sudah memiliki profit yang tinggi” atau “Apa yang bisa dilakukan PR untuk lebih meningkatkan penjualan?”

Bahkan pernah seorang PR & Corporate Secretary sebuah perusahaan mengatakan, “Saya kenal dekat dengan wartawan dan redaktur, jadi kalau ada apa-apa tinggal kontak saja,”.

Jadi persepsi publik tentang PR yang terbangun selama ini memang belum utuh dan bahkan orang yang terlibat di dalamnya sendiri pun cenderung mengerdilkan peran PR.

Dari gambaran di atas jelas, bahwa masih banyak perusahaan yang belum melihat dan memahami fungsi PR secara utuh. Dengan demikian masih banyak tantangan bagi para praktisi PR untuk lebih maksimal mengingat perkembangan PR di luar negeri sudah sedemikian jauh dan memperoleh tempat yang setara dengan profesi lain seperti dokter maupun pengacara.