Sepuluh tahun lalu masih lekat dalam pikiranku. Pukul 10 malam saat itu
udara terasa dingin… Hujan baru saja reda sekitar 15 menit lalu.
Kesibukan lalu-lalang kendaraan di jalan Gandaria Jakarta Selatan mulai
melengang. Entah kenapa aku ingin sekali naik Metromini ke Blok M,
sebelum melanjutkan perjalanan pulangku ke Rawamangun.
Sebuah Metromini akhirnya tiba dengan
penumpang tidak lebih dari lima orang. Aku mencari tempat duduk di
bangku paling belakang dengan tambahan bangku kayu yang ditempelkan
sekenanya. Tak berapa lama seorang ibu dengan tertatih-tatih menggapai
pintu dengan sejumlah barang disandangnya.
Entah berapa usianya.. Tapi aku taksir
sekitar mendekati 60-an. Badannya kurus dengan kerutan di sekitar mata
dan leher. Satu-persatu barang bawaannya ia letakkan di bangku belakang
persis di sampingku. Sebuah bungkusan lebar berisi poster plastik
bergambar tokoh-tokoh kartun Walt Disney ia selipkan di antara pintu
belakang dan bangku. Sementara sebuah buntelan lain yang aku tidak tahu
isinya ia pegang erat-erat, seakan itu adalah barang yang paling
berharga yang ia miliki.
Sekilas ia sempat menatapku dan menunjukkan senyumnya. Senyum seorang ibu tua yang terlihat letih. Aku hanya membalas senyumnya.
Aku hanya dapat berkata dan bertanya dalam hati.. “Betapa
tabah dan kuat ibu tua ini.”
”Adakah ia memiliki anak yang dapat
melepaskan semua beban dari pundak tuanya yang kian ringkih?”
“Sampai
kapan ia harus berkeliling hingga larut malam sekedar untuk mengejar
lembaran ribuan lusuh, agar ia bisa memberi makan dirinya ataupun
keluarganya ?”
Banyak lagi pertanyaan yang masih berkecamuk…..
Tak terasa bis yang kutumpangi memasuki
terminal Blok M. Di mulut terminal, antrean kendaraan umum membuat laju
Metromini yang kutumpangi tersendat untuk masuk lebih dalam ke terminal.
Ibu tua itu akhirnya memutuskan turun di
luar terminal. Dengan tenaga tuanya, ia kemasi barang-barang
dagangannya dan perlahan ia pun turun, dan sebelumnya ia sempat
tersenyum ke arahku. Senyuman yang tulus.
Aku hanya terdiam memandangi tubuhnya
yang berjalan dengan tertatih-tatih sebelum hilang dalam keremangan
malam di sekitar terminal, berbaur dengan asap knalpot kendaraan yang
menyesakkan dada.
Perlahan wajah tua ibuku melintas………