Jokowi Sekedar Boneka?

Rumors Jokowi bakal digadang-gadang sebagai calon presiden ataupun calon wakil presiden  sudah santer saat mantan walikota Solo ini terpilih sebagai Gubernur Ibukota negara ini 2012 lalu. Banyak pihak, saat itu, meragukan Jokowi bakal menuntaskan masa jabatannya selama 5 tahun memimpin Jakarta. Meski Jokowi sendiri kala itu menampik dugaan tersebut dan menyatakan akan menuntaskan seluruh masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta dengan segudang permasalahannya.
 
Kini dua tahun kemudian, semua desas desus atau kecurigaan itu terjawab sudah. Posisi Gubernur Jakarta ternyata hanyalah stepping stone bagi Jokowi untuk maju ke posisi puncak, Presiden RI.
 
Adalah bos PDI-P Megawati Soekarnoputri lah yang meminta (memaksa?) mantan pegusaha mebel di Solo ini menerima tawaran sebagai capres. Pro dan kontra pun mengemuka. Awalnya banyak pihak memperkirakan Megawati lah yang akan maju sebagai capres dan Jokowi sebagai cawapres. Namun sepertinya Megawati tidak begitu yakin dengan popularitas dirinya atau kalah pede, sehingga meminang Jokowi untuk maju.

Ada kesan, dicalonkannya Jokowi sekedar memanfaatkan momentum. Pamor dan figurnya memang sedang naik daun meski sempat sedikit oleng karena masalah banjir yang tak kunjung surut akhir tahun 2013 hingga awal 2014 lalu, tuntutan kenaikan upah buruh, dan kasus korupsi di tubuh Transjakarta yang harus dituntaskan. Bukan itu saja, nama Jokowi bukan saja ngetop di negara ini tapi jauh melintasi batas negara. Australia dan Amerika Serikat misalnya tak luput mengamati setiap langkah Jokowi saat menjabat sebagai gubernur Jakarta. 

Lebih lanjut, pasar langsung merespons positif pencalonan Jokowi sebagai Capres yang diindikasikan dengan meningkatnya indeks harga saham gabungan beberapa waktu lalu sesaat setelah pengumuman pencalonan Jokowi sebagai capres. (Baca: http://ahmadnoors.blogspot.com/2014/03/presiden-membela-kepentingan-siapa.html)

Lalu apa sebetulnya kelebihan Jokowi dibanding figur-figur lain yang mencalonkan diri sebagai Capres. Kesederhanaan dan merakyat, banyak kerja sedikit bicara. Ia pun bekerja sebagai wujud, tidak seperti teknokrat yang cuma duduk dan berpikir. Konon, itulah kelebihan Jokowi, meski hasilnya belum dapat dilihat seluruhnya dan janji-janjinya sebagai Gubernur Jakarta belum lunas, keburu 'ditugaskan' PDI-P  sebagai capres.

Nah, saat capres lain sibuk mencari dukungan dan sibuk memantas-mantas serta menimbang-nimbang cawapres yang akan mendampinginya (meskipun sebetulnya ada beberapa capres yang justru sebetulnya tidak pantas karena kasus-kasus sebelumnya), sebaliknya Jokowi dengan tenang justru dilamar sebagai capres, bukannya cawapres. 

Jokowi memang ramah senyum, dan komentarnya sangat sederhana jauh dari jargon-jargon politik. Tetapi apakah kesederhanaan dan merakyat, sudah cukup untuk menjadi calon Presiden? Tunggu dulu. Ini masalah negara. Bukan soal mengatur kota Solo yang cenderung berpenduduk homogen, atau Jakarta yang punya dua urusan penting sebagai alat ukur keberhasilan gubernur, mengatasi banjir dan macet. 

Dunia bukan sekedar heterogen, namun lebih jauh dari itu, melintasi batas-batas geografis negara, perbedaan budaya dan kebiasaan, juga geopolitik. Bukan bermaksud mengecilkan kemampuan Jokowi. Ini sekedar memberi gambaran betapa jauh lebih kompleks tugas dan peran seorang kepala negara sekaligus pemimpin bangsa. Lalu apa visi Jokowi jika terpilih sebagai presiden kelak? Nah ini yang agak meragukan dan belum tergambar seperti apa visi seorang capres seperti Jokowi. 

Tidak seperti capres-capres lain yang sibuk mengiklankan diri dengan visi dan misi di media massa, Jokowi malah tidak pernah muncul. Kemunculannya sebagai kandidat Presiden malah mengagetkan, meski sudah diprediksi sebagian kalangan. 

Calon-calon presiden seperti Prabowo Subianto, Wiranto, bahkan capres non unggulan seperti Aburizal Bakrie pun memiliki antusiasme tinggi untuk memimpin negara sehingga dari sana muncul ide-ide berupa visi bagaimana memimpin suatu negara dan bangsa dan misi kemana negara dan bangsa ini akan dibawa. Tak peduli apakah mereka sebetulnya pantas atau tidak, karena toh rakyat yang akhirnya memberi legitimasi melalui pemilihan umum. 

Di negara ini yang memiliki  pengalaman sebagai presiden cuma Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan  Habibie (meski cuma selama masa transisi). Jadi sebagai kader PDI-P maka tidak salah jika ada yang mengatakan, nantinya Mega secara visi, Jokowi secara fisik. Bukan tidak mungkin semua nanti diatur oleh anak mantan presiden RI pertama ini atau kepentingan partai.  Memang sah-sah saja, selama tidak mengorbankan rakyat.

Apakah jika terpilih nanti Jokowi tinggal duduk manis menunggu arahan tugas yang akan diberikan si pemberi visi. Tidakkah Jokowi sendiri juga memiliki visi? Ataukan ia nanti hanya sekedar boneka? Mudah-mudahan tidak demikian. Sebagai capres, semua itu seharusnya muncul dari visi pribadi, bukan dari partai atau kepentingan politik lain. Setidaknya jangan terlalu kentara. 

Siapapun yang terpilih kelak haruslah figur yang dapat mengakomodir dan menggerakkan seluruh kemampuan bangsa untuk meningkatkan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia sehingga dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa ini di mata bangsa-bangsa lain. Presiden harus memiliki ketegasan dan tidak dapat lagi bersikap inferior terhadap negara lain. 

Toh Pemilu nanti yang akan menentukan. Mudah-mudahan semua kemampuan itu juga dimiliki Jokowi. Kita lihat saja.