Siapa
yang paling berkepentingan dengan terpilihnya presiden Republik
Indonesia dalam pemilihan umum di bulan April 2014 nanti? Rakyatkah atau
kepentingan ekonomi dan politik pihak lain (termasuk asing)?
Sudah bukan rahasia umum, bahwa dua kepentingan dalam arus utama ini kerap menjadi paradoks dalam ranah politik di negeri ini bahkan di negara manapun. Sejarah mencatat, munculnya pemimpin di Indonesia tidak selalu dapat menyenangkan dan mengakomodir semua pihak.
Presiden Soekarno di tahun 1960-an, ketika semakin dekat dengan Uni Soviet dan komunisme, memaksa negara-negara barat terutama Amerika Serikat mencari figur baru selain Soekarno mengingat posisi strategis Indonesia di kawasan Asia terutama Asia Tenggara dalam konteks perang dingin. Presiden Republik Indonesia pertama inipun akhirnya harus jatuh.
Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) dan pemerintah Amerika Serikat punya andil besar dalam proses-proses penjatuhan rejim Soekarno --meski bukti-bukti kerap dibantah namun itu merupakan fakta sejarah yang sempat terhapus. Jangan terlalu berharap ini gerakan dari rakyat, karena itu murni telah terjadi coup d-etat oleh Soeharto yang didukung militer dan Amerika melalui skenario Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G-30 S PKI).
Sudah bukan rahasia umum, bahwa dua kepentingan dalam arus utama ini kerap menjadi paradoks dalam ranah politik di negeri ini bahkan di negara manapun. Sejarah mencatat, munculnya pemimpin di Indonesia tidak selalu dapat menyenangkan dan mengakomodir semua pihak.
Presiden Soekarno di tahun 1960-an, ketika semakin dekat dengan Uni Soviet dan komunisme, memaksa negara-negara barat terutama Amerika Serikat mencari figur baru selain Soekarno mengingat posisi strategis Indonesia di kawasan Asia terutama Asia Tenggara dalam konteks perang dingin. Presiden Republik Indonesia pertama inipun akhirnya harus jatuh.
Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) dan pemerintah Amerika Serikat punya andil besar dalam proses-proses penjatuhan rejim Soekarno --meski bukti-bukti kerap dibantah namun itu merupakan fakta sejarah yang sempat terhapus. Jangan terlalu berharap ini gerakan dari rakyat, karena itu murni telah terjadi coup d-etat oleh Soeharto yang didukung militer dan Amerika melalui skenario Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G-30 S PKI).
Sejak itu muncullah regim (boneka) baru, Soeharto. Dengan orde barunya yang didukung oleh negara Adidaya Amerika Serikat.
Bagaimana
dengan kepentingan rakyat Indonesia saat itu? Siapa peduli. Rakyat di
sudah dijejali omong kosong dan bual politik bahwa Indonesia berhasil
diselamatkan dari komunisme. Hasilnya? Jelas sekali,
perusahaan-perusahaan Amerika Serikat memperoleh konsesi di Papua (dulu
Irian Jaya) untuk mengeksploitasi sumber emas terbesar di dunia dan
konsesi sumber minyak di Indonesia melalui Freeport dan Caltex.
Sementara di sisi lain secara politik, runtuhnya rejim Soekarno
merupakan kemenangan Amerika dan negara Barat untuk mengontrol Indonesia
yang memiliki posisi strategis dalam konteks perang dingin waktu itu.
Kasus
yang sama dan namun lebih kasar saat ini juga terjadi di negara lain,
seperti Irak, Iran, Suriah. Selalu ada kepentingan politik dan ekonomi
yang melatarbelakangi pergantian rejim.
Bagaimana
dengan jatuhnya Soeharto setelah 32 tahun menjadi penguasa negeri ini?
Dalam kaitan dengan penghancuran suatu rejim yang sudah membangun
kemapanan sistem politik dalam jangka waktu lama, kepentingan asing akan
bermain
secara cantik, dengan jargon-jargon kapitalis dan demokrasi dan
memanfaatkan berbagi isu yang potensial yang terus menerus dijejalkan
agar terjadi kristalisasi dalam masyarakat dan akar rumput.
Amerika Serikat dan negara-negara barat lain adalah jagonya, dan mereka punya andil besar. Isu rotten corruption, nepotisme,
demokratisasi serta isu-isu pelanggaran hak asasi di Indonesia menjadi
isu serius yang terus digulirkan. Media dan organisasi nirlaba yang
didanai organisasi sejenis dari negara-negara barat punya andil luar
biasa dalam proses pelengseran Soeharto.
Isu-isu tersebut akhirnya mendapatkan momentum setelah krisis global membuat ekonomi Indonesia porak poranda. Beban ekonomi
masyarakat semakin meningkat akibat naiknya nilai tukar dolar yang tak
pernah terbayangkan sebelumnya sehingga memicu naiknya bahan-bahan pokok.
Hal ini membuat kesabaran masyarakat dan rakyat Indonesia mencapai
titik nadir, yag menjadi trigger suatu gerakan keresahan yang merata.
Gerakan reformasi saat itu seakan menemukan artikulasinya dan menjadi
bola salju yang sulit dihentikan dan berujung dengan tumbangnya rejim
Orde Barunya Soeharto. Pertanyaannya, apakah kejatuhan murni karena
desakan dan gerakan dari akar rumput? Tidak juga. Tapi yang jelas
"boneka" ini dianggap sudah usang oleh pembuatnya, demikian pula dengan
konstelasi politik dunia sudah demikian berubah yang memerlukan figur
baru yang segar.
Demikian
pula saat naiknya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati sebagai
Presiden dan Wakil Presiden --konon karena kedekatan Gus Dur dengan
Amerika Serikat dan Israel, disamping Gus Dur dinilai sebagai tokoh pro
demokrasi saat itu serta menjadi most favorable figure saat itu di antara figur-figur yang cenderung anti kapitalis dan potensial mengancam kepentingan Barat
seperti misalnya Amin Rais. Saat itu rumor bakal terpilihnya
Abdurrahman Wahid sudah santer terdengar sebelum pemilu berlangsung.
Terpilihnya
Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden pun sepertinya tak luput
dari intevensi kepentingan asing. Meskipun dibesarkan dari situasi
melodramatik saat SBY menjabat sebagai Menteri dalam kabinet Megawati
dan memperoleh simpati rakyat, SBY dinilai para King
Maker dari Barat sebagai figur pro demokrasi dan pro barat. Bayangkan
jika yang muncul saat itu mantan-mantan Jenderal yang pernah memegang
komando utama dalam rejim Soeharto. Jadi SBY saat itu merupakan the best
among the worst. Meskipun demikian peran rakyat tetap sangat signifikan
untuk memberikan legitimasi melalui Pemilihan Umum yang demokratis. Tak
perlu diragukan.
Lalu bagaimana dengan kepentingan rakyat? Apa yang telah dilakukan para Presiden itu untuk bangsa ini?
Soeharto selama 32 tahun masa pemerintahannya disebut-sebut sudah banyak membangun Indonesia hingga dijuluki--oleh para penjilat, sebagai Bapak Pembangunan -- sebuah julukan yang rancu, bukankah memang sudah tugas seorang pemimpin negara membangun negara ini. Pembangunan selalu dikaitkan dengan kepentingan politis. Pencanangan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang diakhir Repelita yaitu tahun ke-25 tetap saja kita tidak pernah tinggal landas. Masalah yang dihadapi masih saja seputar sandang, pangan dan papan. Pendidikan semakin tertinggal dengan negara-negara jiran (yang dulu selalu merasa inferior dengan Indonesia) dan teknologi dibatasi (karena alasan politis).
Soeharto selama 32 tahun masa pemerintahannya disebut-sebut sudah banyak membangun Indonesia hingga dijuluki--oleh para penjilat, sebagai Bapak Pembangunan -- sebuah julukan yang rancu, bukankah memang sudah tugas seorang pemimpin negara membangun negara ini. Pembangunan selalu dikaitkan dengan kepentingan politis. Pencanangan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang diakhir Repelita yaitu tahun ke-25 tetap saja kita tidak pernah tinggal landas. Masalah yang dihadapi masih saja seputar sandang, pangan dan papan. Pendidikan semakin tertinggal dengan negara-negara jiran (yang dulu selalu merasa inferior dengan Indonesia) dan teknologi dibatasi (karena alasan politis).
Teknologi
tinggi (saat itu teknologi kedirgantaraan yang diusung lewat PT IPTN) yang dikembangkan hanya politik mercusuar tentang kebangkitan Indonesia
sebagai suatu bangsa, meski rakyatnya tidak pernah merasakan manfaat dari
teknologi dan hasil teknologi itu sendiri secara langsung. Dan yang paling sial, Soeharto meninggalkan hutang bagi negara triliunan rupiah yang harus ditanggung seluruh
bangsa Indonesia. Bahkan di atas kertas dikatakan seorang bayi yang baru lahir sudah harus menanggung beban hutang
negara.
BJ Habibie,
sebagai presiden dalam masa transisi sayangnya tidak masuk hitungan.
Namun Habibie sebaliknya dianggap berjasa oleh negara jiran Timor Timur. Berkat referendum yang diusulkannya maka Timor Timur berpisah
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini sebaliknya dibela oleh kalangan
pro-demokrasi di Indonesia dan dunia Barat.
Presiden Abdurrahman Wahid dalam waktu kurang dua tahun masa pemerintahannya sebelum dilengserkan MPR yang dimotori Amien Rais juga belum membuat hasil yang signifikan untuk bangsa ini, kecuali desakralisasi lambang-lambang negara, seperti siapapun bebas masuk istana negara dan istana merdeka atau diperolehkannya warga Tionghoa merayakan Imlek serta pembebebasan tahanan politik rezim Soeharto serta pemulihan nama baik keluarga yang dituduh anggota gerakan PKI. Gus Dur merupakan figur demokratis yang dilengserkan secara demokratis.
Presiden Abdurrahman Wahid dalam waktu kurang dua tahun masa pemerintahannya sebelum dilengserkan MPR yang dimotori Amien Rais juga belum membuat hasil yang signifikan untuk bangsa ini, kecuali desakralisasi lambang-lambang negara, seperti siapapun bebas masuk istana negara dan istana merdeka atau diperolehkannya warga Tionghoa merayakan Imlek serta pembebebasan tahanan politik rezim Soeharto serta pemulihan nama baik keluarga yang dituduh anggota gerakan PKI. Gus Dur merupakan figur demokratis yang dilengserkan secara demokratis.
Megawati,
sebagai pengganti Gus Dur tidak banyak membawa angin segar bagi bangsa
ini. Megawati dianggap telah menjual bangsa dalam privatisasi BUMN yang merupakan aset milik bangsa ke negara-negara lain terkait dengan privatisasi tahun awal tahun 2000 lalu.
Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) dalam 2 periode masa pemerintahannya juga tidak
banyak membuat perubahan yang luar biasa dalam membangun Republik ini.
Secara politik, SBY justru tidak tegas dan terkesan inferior. Soal pelanggaran kedaulatan batas-batas negara oleh negara jiran
Malaysia seakan dibiarkan tanpa adanya reaksi sehingga membuat Indonesia seakan tunduk oleh Malaysia.
Lepasnya Pulau
Sipadan ke tangan Malaysia merupakan sesuatu contoh fatal lainnya yang di
zaman rezim Soeharto tidak akan pernah terjadi. Salah satu pencapaian
paling penting selama masa kepresidenan SBY, adalah terbentuknya Komisi
Pemberantasan Korupsi, meski Partainya SBY, Partai Demokrat sendiri akhirnya harus
berhadapan KPK dalam kasus kasus korupsi yang diduga dilakukan oleh
petinggi Demokrat, termasuk anaknya.
Kini
tahun 2014, apakah kepentingan ekonomi dan politik asing kembali
berperan dalam terpilihnya presiden Republik Indonesia pada Pemilu kali
ini? Apakah kepentingan-kepentingan itu akan diakomodir oleh para demagog atau justru kepentingan tersebut yang berperan besar dalam terpilihnya mereka?
Kita lihat saja saat ini, belum pernah ada ekspresi luar biasa dari pasar yang mengindikasikan adanya favorable candidate,
kecuali saat Jokowi menerima pinangan PDI-P untuk dicalonkan sebagai
Presiden RI. Pasar bursa seakan antusias dengan berita tersebut yang
dibuktikan dengan kenaikan indeks harga saham gabungan yang mencapai
rekor kenaikan tertinggi di Asia tanggal 16 Maret 2014.
Histeria politik semata atau sinyal yang sengaja diberikan pasar atas siapa yang
diinginkan oleh kepentingan asing. Logikanya, Jokowi yang mantan
walikota Solo dan masih menjabat gubernur DKI Jakarta ini
belum sempat blusukan mencari dukungan, meskipun secara politis pencalonannya sudah legitimate
karena didukung salah satu partai besar PDI-P. Jadi terlalu dini untuk
menilai kompetensi Jokowi sebagai Presiden saat ini, kecuali sabagai
figur paling populer di Indonesia semata.
Indonesia
bukan sekedar mencari figur presiden yang mampu membangun, namun mampu
mengakomodir sekaligus menggerakkan seluruh potensi yang ada di negeri
ini, baik manusia dan sumber-sumber lain untuk menyejahterakan
masyarakatnya. Figur itupun harus memiliki kekuatan untuk dapat
mengangkat harkat dan martabat bangsa ini yang sudah berada pada titik
terendah di mata bangsa-bangsa lain.
Siapapun
orangnya yang akan menjadi presiden negara ini, kedewasaan masyarakat perlu lebih
ditingkatkan bukan sekedar mempertontonkan simplifikasi politis.
Terlalu besar dan banyak yang akan dipertaruhkan jika hal itu dilakukan.