Apa yang tersisa dari propinsi Banten sekarang ini?
Setelah pisah dari propinsi Jawa Barat, para penguasa propinsi baru di ujung Barat pulau Jawa ini laksana kuda liar kepas lari dan menerjang. Mereka seolah menjadi raja baru yang haus kekuasaan dan harta. Semua disikat.
Begitu banyak proyek yang dikuasai segelintir penguasa-preman yang terus menurun ke dinasti penerusnya. Setelah H Chasan, kini generasi Ratu Atut Chosiyah dan adiknya Tubagus Chaeri Wardana yang membawa bendera dinasti jawara Banten itu.
Banten saat ini seakan menjadi daerah dengan enclave kemakmuran yang berserak di antara kemiskinan yang merebak. Kemajuan hanya dinikmati masyarakat di daerah-daerah yang menjadi satelit Jakarta, seperti Tangerang, atau daerah-daerah industri dan perdagangan seperti Cilegon dan Merak. Itupun mayoritas di nikmati pekerja pendatang dari daerah lain yang bekerja di sektor-sektor industri yang ada disana.
Berbeda dengan air, kemakmuran di Banten tidak mengalir membasahi daerah-daerah di sekitarnya. Kemakmuran hanya milik segelintir penguasa, kroni-kroni dan para penjilat yang rela mempertaruhkan kehidupan masyarakatnya demi kemewahan.
Ironis memang, di tengah bergelimang kemewahan para penguasanya, ternyata banyak daerah yang seperti belum terjamah peradaban. Anak-anak sekolah dan masyarakat dibiarkan berayun-ayun di jembatan gantung yang dibuat secara sederhana, mempertaruhkan nyawa demi pendidikan. Secara sinis disebut wartawan asing seperti jembatan Indiana Jones.
Jika saja kasus korupsi yang merebak di propinsi ini tidak merujuk ke dinasti Chasan ini, borok-borok yang ada mungkin tidak akan terkuak. Tuduhan dan gerakan dari masyarakat yang mengkritisi sepak terjang dinasti ini selalu sukses diredam. Aparat seperti diam tak peduli.
Banten sebenarnya memiliki potensi alam yang melimpah, dengan daerah industri dan perdagangan yang juga berkembang pesat.
Banten sebenarnya memiliki potensi alam yang melimpah, dengan daerah industri dan perdagangan yang juga berkembang pesat.
Jika kita lihat sejarah, jauh sebelum bangsa Eropa datang ke Nusantara Banten dulunya merupakan kota pelabuhan yang sangat ramai, serta
dengan masyarakat yang terbuka dan makmur. Sejumlah catatan menunjukkan kesultanan Banten berhasil mengangkat derajat daerah dan masyarakat setempat dengan kemajuan yang ada saat itu.
Ketika sudah menjadi pusat Kesultanan Banten, Banten merupakan pelabuhan besar di Asia Tenggara, sejajar dengan Malaka dan Makassar. Pada awal abad ke-17 Masehi, Banten merupakan salah satu pusat
perniagaan penting dalam jalur perniagaan internasional di Asia. Tata
administrasi modern pemerintahan dan kepelabuhan sangat menunjang bagi
tumbuhnya perekonomian masyarakat.
Gambaran sejarah itu menunjukkan bahwa pemimpin Banten dulu berhasil memajukan dan memberikan kemakmuran pada rakyatnya. Sebagai seorang Sultan, pimpinan Banten saat itu sebenarnya bisa berbuat sekehendak hati untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, apalagi Sultan bukanlah figur yang dipilih secara demokratis dan harus mengakomodir kepentingan-kepentingan rakyat. Namun kearifan dan kebijaksanaan, serta nurani yang membuatnya memikirkan rakyatnya.
Kini bandingkan dengan "raja kecil" dinasti Chasan ini. Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmy istri Tubagus Chaeri Wardana atau Wawan yang juga adik Atut ini memiliki kesamaan. Mereka gemar mengoleksi tanah. Bahkan nilai keseluruhan tanah milik Airin dan Wawan tercatat sebesar Rp 59 miliar, atau setengah dari total kekayaan mereka yang sebesar Rp 109 miliar. Padahal Ratu Atut sendiri hanya mengkoleksi tanah senilai Rp 19 miliar. (Mungkin nilai ini hanya sebagian yang terlacak).
Selama sembilan tahun dari tahun 2000, Airin bersama suaminya Wawan tercatat total membeli empat kapling tanah seluas 3.712 m2 berikut bangunannya di dalam Kota Bandung hanya dengan Rp 4.6 miliar. Di Kabupaten Bandung mereka membeli enam kapling tanah seluas 1.989 m2 senilai Rp 2,7 miliar saja.
Sementara kegemaran mengoleksi kendaraan juga turut memperkuat bukti dugaan penyalahgunaan kekuasaan dalam kasus korupsi sejumlah proyek di Banten.
Di antaranya yang telah sampai di gedung KPK yakni tiga mobil mewah jenis Nissan GTR Putih B 888 GAW, Toyota Land Cruiser hitam B 888 TCW, Lexus hitam B 888 ARD, dan motor besar Harley Davidson silver B 3484 NWW, dua Pajero Mitsubishi, satu BMW, satu Honda Freed, tiga Toyota Innova, satu Avanza, satu Ford Fiesta, dan satu Fortuner. Mobil-mobil ini disita di empat tempat di Serang, Banten. Sedangkan tiga mobil mewah seperti Ferrari, Lamborghini putih B 888 WAN dan Rolls Royce warna hitam yang diduga milik adik Atut menambah daftar sita KPK.
Seorang teman yang kenal dengan Wawan mengatakan, bahwa wajar mereka membeli semua kemewahan itu. "Wawan sudah kaya dari dulu dan dia kan pengusaha," kata teman saya. Menurut pandangannya KPK seharusnya tidak pandang bulu dan tidak bisa menyita semua kekayaan Wawan begitu saja.
Gambaran sejarah itu menunjukkan bahwa pemimpin Banten dulu berhasil memajukan dan memberikan kemakmuran pada rakyatnya. Sebagai seorang Sultan, pimpinan Banten saat itu sebenarnya bisa berbuat sekehendak hati untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, apalagi Sultan bukanlah figur yang dipilih secara demokratis dan harus mengakomodir kepentingan-kepentingan rakyat. Namun kearifan dan kebijaksanaan, serta nurani yang membuatnya memikirkan rakyatnya.
Kini bandingkan dengan "raja kecil" dinasti Chasan ini. Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmy istri Tubagus Chaeri Wardana atau Wawan yang juga adik Atut ini memiliki kesamaan. Mereka gemar mengoleksi tanah. Bahkan nilai keseluruhan tanah milik Airin dan Wawan tercatat sebesar Rp 59 miliar, atau setengah dari total kekayaan mereka yang sebesar Rp 109 miliar. Padahal Ratu Atut sendiri hanya mengkoleksi tanah senilai Rp 19 miliar. (Mungkin nilai ini hanya sebagian yang terlacak).
Selama sembilan tahun dari tahun 2000, Airin bersama suaminya Wawan tercatat total membeli empat kapling tanah seluas 3.712 m2 berikut bangunannya di dalam Kota Bandung hanya dengan Rp 4.6 miliar. Di Kabupaten Bandung mereka membeli enam kapling tanah seluas 1.989 m2 senilai Rp 2,7 miliar saja.
Sementara kegemaran mengoleksi kendaraan juga turut memperkuat bukti dugaan penyalahgunaan kekuasaan dalam kasus korupsi sejumlah proyek di Banten.
Di antaranya yang telah sampai di gedung KPK yakni tiga mobil mewah jenis Nissan GTR Putih B 888 GAW, Toyota Land Cruiser hitam B 888 TCW, Lexus hitam B 888 ARD, dan motor besar Harley Davidson silver B 3484 NWW, dua Pajero Mitsubishi, satu BMW, satu Honda Freed, tiga Toyota Innova, satu Avanza, satu Ford Fiesta, dan satu Fortuner. Mobil-mobil ini disita di empat tempat di Serang, Banten. Sedangkan tiga mobil mewah seperti Ferrari, Lamborghini putih B 888 WAN dan Rolls Royce warna hitam yang diduga milik adik Atut menambah daftar sita KPK.
Seorang teman yang kenal dengan Wawan mengatakan, bahwa wajar mereka membeli semua kemewahan itu. "Wawan sudah kaya dari dulu dan dia kan pengusaha," kata teman saya. Menurut pandangannya KPK seharusnya tidak pandang bulu dan tidak bisa menyita semua kekayaan Wawan begitu saja.
Betul. Tidak ada ada yang menyalahkan pandangan tersebut. Namun, dimana nurani para penguasa-penguasa itu yang seharusnya menjadi pengayom, pelindung masyarakatnya serta bekerja untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya bukan pribadi dan keluarganya. Saat rakyatnya harus berjuang untuk belajar bertahan hidup di tengah himpitan kemiskinan, mereka seolah menutup mata dan terus menggelotorkan uang untuk hal-hal yang jauh dari kebutuhan rakyatnya. Apalagi jika ternyata uang yang dihamburkan tersebut memang seharusnya untuk rakyat.
Roda memang selalu berputar. Dan dunia memang penuh paradoks.
