Debat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) sepertinya menjadi seremonial, pelengkap pesta demokrasi belaka. Tidak afdol pemilu tanpa debat Capres Cawapres. Debat yang berlangsung laksana acara pemilihan penyanyi di tivi-tivi lokal dengan franchise siaran dari Amerika Serikat ini memang cukup meriah. Tampak hadir dalam acara tersebut para petinggi partai serta mantan pejabat negara dan militer. Belum lagi para pendukung yang selalu meneriakkan yel-yel persis supporter sepakbola.
Pertanyaannya seberapa efektif debat terbuka para Capres dan Cawapres, sehingga dapat secara signifikan membentuk ataupun mengubah opini calon pemilih dan menentukan pilihannya?
Permasalahannya, di Indonesia unsur primordialisme lebih kental dalam memberi pengaruh dibandingkan rasionalitas pemilih dalam politik. Katakanlah unsur kesukuan, agama, kedaerahan sering diusung -- baik secara eksplisit maupun implisit, untuk memberikan proximity bagi calon-calon pemilih. Maka tak heran jika faktor ini juga menjadi alasan menduetkan Jokowi dengan Jusuf Kalla (tentunya dengan pertimbangan lain soal senioritas dan pengalaman JK sebelumnya). Seorang kawan dari Sulawesi mengatakan bahwa Jusuf Kalla cukup pantas karena dia sudah memiliki pengalaman sebagai wakil presiden dan juga tokoh yang dihormati di Sulawesi. Di samping itu, Jusuf Kalla, katanya, sudah terjun ke duania politik sejak lama. Sementara kawan di Sumatra Barat menyatakan bahwa istri Jusuf Kalla adalah orang Minang, bisa jadi itu menjadi salah satu faktor penentu di daerah tersebut.
Permasalahannya, di Indonesia unsur primordialisme lebih kental dalam memberi pengaruh dibandingkan rasionalitas pemilih dalam politik. Katakanlah unsur kesukuan, agama, kedaerahan sering diusung -- baik secara eksplisit maupun implisit, untuk memberikan proximity bagi calon-calon pemilih. Maka tak heran jika faktor ini juga menjadi alasan menduetkan Jokowi dengan Jusuf Kalla (tentunya dengan pertimbangan lain soal senioritas dan pengalaman JK sebelumnya). Seorang kawan dari Sulawesi mengatakan bahwa Jusuf Kalla cukup pantas karena dia sudah memiliki pengalaman sebagai wakil presiden dan juga tokoh yang dihormati di Sulawesi. Di samping itu, Jusuf Kalla, katanya, sudah terjun ke duania politik sejak lama. Sementara kawan di Sumatra Barat menyatakan bahwa istri Jusuf Kalla adalah orang Minang, bisa jadi itu menjadi salah satu faktor penentu di daerah tersebut.
Sementara dari kubu Prabowo, meski unsur kesukuan tidak begitu menonjol, namun koalisi dengan beberapa partai Islam seakan memberikan dikotomi tersendiri antara Islam dan non Islam (bisa memberi pengaruh positif maupun negatif), meskipun unsur nasionalisme kerap diusung dalam kampanye Prabowo-Hatta.
Pemilih di Indonesia cenderung sudah menentukan sikapnya terhadap figur atau calon pilihannya jauh-jauh hari sebelum debat dimulai. Landasan berpikir secara primordial sempit ini yang sering menjadi pertimbangan pemilih (akar rumput).
Dengan kondisi seperti ini substansi debat seberapapun hebat dalam konsep visi dan misi, menjadi tidak relevan. Calon pemilih yang sudah menentukan pilihannya justru mencari kelemahan Capres yang menjadi lawan Capres pilihannya. Katakanlah substansi maupun sikap Capres A dalam menjawab cukup bagus, atau sebaliknya jawaban Capres B memiliki nilai yang sama agaknya sulit bagi pendukung masing-masing Capres mengakui kekuatan Capres lawannya, sebaliknya kelemahan Capres pilihannya cenderung diabaikan bahkan mereka akan mencari kelemahan lain dari capres lawannya. Ada kesan, benar atau salah, pilihan sudah ditentukan.
Dengan mengedepankan unsur primoprdialisme ini maka tak heran jika unsur ini kerap dimunculkan dalam kampanye hitam dari masing-masing pendukung Capres untuk menjatuhkan Capres lawannya. Masalah keislaman Jokowi ataupun nasionalisme Prabowo yang dipertanyakan misalnya menjadi lebih mengemuka dalam kampanye hitam.
Jadi menurut saya, sasaran debat Capres Cawapres ini sebenarnya adalah massa
mengambang (floating mass) yang jumlahnya diperkirakan sekitar antara
7% - 8% . Mereka ini umumnya pemilih yang memiliki pendidikan yang baik dan belum menentukan pilihannya. Pilihan mereka inilah nantinya ditentukan oleh penilaian mereka secara rasional antara lain melalui debat capres tersebut. .Di samping itu banyaknya survey menjelang pemilu yang menyiratkan persentase elektabilitas masing-masing Capres yang cenderung sama kuat (mengesampingkan keberpihakan lembaga survey dan media massa yang mempublikasikannya), maka suara floating mass ini menjadi sangat signifikan untuk direngkuh.
Ini adalah realitas yang terjadi di negara ini, sehingga di masa mendatang tantangan bagi bangsa ini adalah semakin dewasa dan membangun rasionalitas sebagai pertimbangan dalam memilih pemimpin negeri ini, bukan semata pertimbangan kedekatan semu primordialisme.
Ini adalah realitas yang terjadi di negara ini, sehingga di masa mendatang tantangan bagi bangsa ini adalah semakin dewasa dan membangun rasionalitas sebagai pertimbangan dalam memilih pemimpin negeri ini, bukan semata pertimbangan kedekatan semu primordialisme.