ISIS Untuk Siapa?

The Islamic State Iraq and Suriah (ISIS) menjadi sangat fenomenal belakangan ini, bukan saja karena sepak terjangnya yang mengerikan namun lebih jauh lagi, sudah tidak dapat diterima dalam konteks kemanusiaan dan kehidupan dimanapun di dunia. Berita mengenai kekejaman dan teror ISIS dengan mengusung Agama sebagai bahan bakar benar-benar sukses memporakporandakan negara-negara Islam di Timur Tengah.

Siapa yang bertanggungjawab? Mereka yang menciptakan konfliklah yang bertanggungjawab terhadap munculnya gerakan-gerakan radikal ini.

Sejarah mencatat, ketika Israel --yang dibantu Inggris dan Amerika membantu munculnya negara Israel di tanah Palestina, dan mulai mendominasi serta mengoyak tanah dan bangsa Palestina maka lahirlah Palestina Liberation Front (PLO) tahun 1964 dan ketika PLO dianggap terlalu lemah dalam bernegosiasi dengan Israel dan sekutunya, lahirlah HAMAS. Begitu juga di Afghanistan, ketika Uni Soviet menduduki negara yang dulu dikenal makmur itu, munculah Mujahidin dan selanjutnya Alqaeda. Di Irlandia Sinn Fein yang muncul di awal abad ke-20 merupakan pergerakan politik untuk membebaskan Irlandia dari kekuasaan Inggris dan menyatukan Irlandia sebagai cabang politik Tentara Republik Irlandia --IRA (Irish RepublicanArmy)

ISIS lahir bukan tanpa sebab. Ada beberapa analisis yang menarik. Seperti diketahui, akhir Juni tahun2014 kelompok milisi ISIS telah mendirikan kekhalifahan di wilayah yang sudah mereka kuasai di Irak dan Suriah. Pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, kemudian menyerukan kepada umat muslim untuk berimigrasi ke "Negara Islam" dengan mengatakan langkah itu sebagai kewajiban. Ia membuat "seruan khusus" itu untuk para hakim, dokter, insinyur, dan mereka yang memiliki keahlian militer dan administratif untuk membantu langsung gerakan ISIS.

Terlepas dari upaya menarik pemuda Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk berperang ke Suriah dan Irak, ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji. Pertama ISIS memiliki kekuatan dan dana yang luar biasa serta bisa muncul begitu saja dan langsung menggebrak dunia dengan gerakan terornya. Aneh dan lucu jika negara-negara seperti Israel, Amerika dan Inggris yang memiliki intelijen dengan dukungan kecanggihan teknologi tidak dapat memonitor gerakan ini. Konon semua bentuk komunikasi sudah dapat disadap oleh negara-negara tersebut. Senjata dan peralatan perang yang digunakan seakan tak ada habisnya, bahkan penggunaan amunisi berat dengan mudah digunakan ISIS.

Ada teori, bahwa mereka sengaja diciptakan. Mantan pejabat NSA CIA agen Edward Snowden mengungkapkan bahwa pemimpin Islamic State of Iraq and Syria Abu Bakr Al Baghdadi dilatih di Israel, Snowden menambahkan bahwa CIA dan Dinas rahasia Inggris berkolaborasi dengan Dinas rahasia Israel, Mossad menciptakan organisasi teroris yang dapat menarik semua group yang dianggap ekstremis di dunia ke satu tempat, menggunakan strategi sarang tawon.

Israel sendiri sangat memiliki kepentingan untuk menciptakan instabilitas di negara-negara tetangganya, terutama yang punya potensi sebagai ancaman, seperti Suriah, Iran dan Irak. Kini, saat Israel sibuk menyerang Gaza, perhatian dunia teralihkan dengan horor yang berlangsung di belahan lain di Timur Tengah dan masalah Palestina tidak memiliki magnitude yang dapat menggugah dunia. Negara-negara yang dianggap musuh Israel seperti sibuk dengan ISIS yang kian menggila.

Amerika Serikat, seperti berpura-pura peduli bahkan mulai turun tangan, setelah seorang Jurnalis, warga negaranya dipenggal oleh ISIS. Itupun cuma setengah-setengah tampaknya.


Islam vs Islam

Minggu awal bulan April 2015,  Kelompok militan ISIS menyerang kamp pengungsi warga Palestina di Yarmouk, Damaskus, Suriah. Ironis dan membingungkan, target apa sebenarnya yang dicari ISIS dengan menyerang kamp pengungsi Palestina. Kita tahu bahwa dunia Islam sangat prihatin dengan Palestina terkait konflik dengan Zionis Israel. Sangat membingungkan jika ISIS yang kabarnya membela panji-panji Islam dan kepentingan dunia Islam justru menyerang kamp Palestina.

Musuh besar Palestina, Israel sepetinya selama ini justru tidak tersentuh. ISIS malah sibuk menyerang negara-negara Islam dan menghancurkan peninggalan peradaban Islam. Jadi siapa sebenarnya yang memberikan komando penyerangan-penyerangan yang dilakukan ISIS selama ini. Dengan pernyataan Snowden bukan tidak mungkin negara barat dan Israel ada di balik gerakan ISIS untuk melemahkan negara-negara yang selama ini keras terhadap Barat dan Israel.

Dugaan lain adalah turut sertanya negara-negara produsen senjata yang membutuhkan perang di dunia agar produksi senjata dan mesin perang mereka ada pembelinya. Tentu saja lagi-lagi negara-negara seperti Amerika, Inggris, Israel yang memiliki industri persenjataan besar. Bukan tidak mungkin, konflik di Timur Tengah dijadikan ajang uji coba secara nyata keampuhan persenjataan.

ISIS di Indonesia

Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi salah satu sasaran rekrutmen kelompok ISIS terutama dengan adanya faham radikalisme yang masih terus berkembang di Indonesia memberikan pupuk bagi tumbuh suburnya gerakan semacam ISIS.

Meskipun demikian pengamat politik Komaruddin Hidayat seperti dikutip BBC Indonesia beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa pandangan ISIS bisa berkembang luas di Irak dan Suriah karena wilayah itu berada dalam suasana kemarahan, kekecewaan, dan konflik. Ia sendiri menyayangkan konflik berkepanjangan dan perebutan kekuasaan yang terjadi di Timur Tengah.

"Agama kemudian dicitrakan dengan penuh dengan kemarahan dan permusuhan.""Padahal saat ini justru kekuatan agama apapun harus tampil sebagai kekuatan peradaban yang menjalin kerja sama bukan kekuatan konflik semacam itu,"paparnya. "ISIS itu pandangan yang romantis dan utopis, jadi sangat tidak realistis," kata Komaruddin Hidaya.

"Yang namanya kekhalifahan itu catatan sejarah masa lalu. Nuansa agama dan dinastiisme-nya lebih kental. Sekarang kan sudah diambil alih dengan bentukan negara, nasionalisme yang lebih demokratis, terbagi dan tidak tersentral dengan sosok seseorang." Menurutnya konsep kekhalifan di jaman modern di Indonesia, sama sekali tidak akan menarik.

Faktanya kini banyak anak muda Muslim dari Indonesia yang terbang untuk bergabung dengan ISIS. Pemahaman terhadap Islam yang kaku serta kurangnya pemahaman yang mendalam terhadap  perkembangan politik di Timur Tengah akan menjerumuskan anak-anak muda yang hanya berbekal emosi keagamaan untuk turun berperang secara sia-sia.