Tulisan ini merupakan bagian buku yang ditulis bersama oleh
Ahmad Nur Sobirin dan Ignatius Haryanto dan diterbitkan oleh LSPP
Ahmad Nur Sobirin dan Ignatius Haryanto dan diterbitkan oleh LSPP
Pengalaman Pengendalian Tembakau di Negara Tetangga
Thailand
Perjuangan
panjang Thailand dalam pengendalian tembakau dimulai sejak tahun
1980-an, bahkan pada pertengahan 1970-an, ketika pertama kalinya
peringatan kesehatan dalam kemasan rokok diterapkan pada setiap bungkus
rokok yang beredar di negara itu. Kini 35 tahun kemudian, Thailand
menjadi contoh sukses negara-negara yang berhasil menerapkan kebijakan
anti rokok dan pengendalian tembakau di kawasan ASEAN.
Salah
satu keberhasilan Thailand yang juga dikenal dengan legislasi anti
tembakau terkuat di dunia ini, adalah dibentuknya koalisi pengendalian
tembakau yang dimotori Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal, Thai Anti-Smoking Campaign Project atau
lebih dikenal dengan ASH Thailand pada tahun 1986. Pada tahun 1988,
gerakan anti rokok ini semakin meluas di seluruh Thailand dan memberi
pengaruh yang dapat dirasakan seluruh negeri. Melalui kegiatan marketing
serta kegiatan yang melibatkan media specialist dan figur-figur
penting mengubah gerakan anti rokok ini menjadi mobilisasi sosial dengan
implikasi yang luar biasa terhadap tumbuhnya kesadaran masyarakat luas
akan perlunya pengendalian tembakau.
Sebagai
salah satu negara di dunia yang memiliki undang-undang pengendalian
tembakau yang komprehensif, Thailand memberikan penghargaan untuk banyak
kelompok sektoral sejak tahun 1992 dan terus menerus melakukan advokasi
pada tingkat nasional untuk mengurangi gap yang ada. ASH Thailand merupakan satu kelompok yang dalam kurun lebih dari 20 tahun, telah memulai, mendukung dan melakukan lobby untuk
kawasan 100% bebas asap rokok, kenaikan pajak tembakau yang nantinya
dialokasikan untuk pengendalian tembakau, pelarangan secara menyeluruh
iklan dan promosi tembakau dalam berbagai bentuk serta peringatan
kesehatan dalam bentuk gambar pada bungkus atau kemasan.
ASH
Thailand memulai upaya melakukan advokasi terhadap kebijakan tanpa
modal apa-apa tapi dengan menggunakan sumber daya yang ada dan tersedia,
seperti mitra-mitra para akademisi, peneliti, LSM, Komite olah raga,
kelompok civil society, bahkan termasuk bintang-bintang film.
Pajak yang diterima benar-benar membantu memberikan keberlangsungan
dalam pendanaan bagi pengendalian tembakau di negara ini.
ASH
Thailand bahkan secara ekstensif memanfaatkan peluang dalam mengawasi
kebijakan yang relevan dan penelitian yang berdasarkan bukti-bukti yang
mendukung kebijakan yang diterapkan, mengkonseptualisasikan dan
merancang materi kampanye, road shows dan lomba seni yang
terorganisasi, memperluas dukungan dan hubungan pada kelompok lain serta
memperluas basis informasi mengenai pengendalian tembakau yang secara
efektif membantu memberikan informasi tangan pertama kepada media secara
berkala dan terus menerus.
Selain
melalui pelarangan-pelarangan dan pembatasan, pemerintah Thailand juga
memberlakukan pajak yang tinggi yang nantinya secara progresif bakal
mengurangi produk-produk tembakau yang semakin sulit diperoleh karena mahal.
Pemerintah Thailand juga melakukan sejumlah intervensi misalnya dengan:
Menaikkan
tingkat pajak bagi produk tembakau secara periodik untuk menyesuaikan
dengan tingkat inflasi serta meningkatkan lebih cepat dibandingkan
dengan daya beli konsumen.
Intervensi selanjutnya adalah dengan memperkuat administrasi pajak untuk mengurangi penjualan produk-produk tembakau illegal.
Intervensi
melalui pajak ini sejalan dengan anjuran WHO: “Kebijakan pajak terhadap
tembakau mengurangi konsumsi, khususnya dengan mengurangi penggunaan
oleh anak muda sebelum mereka kecanduan”.
Dengan
penerapan pajak ini, pemerintah Thailand sepertinya tidak mau mengalah
dengan industri rokok (tembakau), dengan mencanangkan istilah Win-Win Policy,
bahwa pemerintah Thailand menang dengan menerima lebih banyak pemasukan
dari pajak tembakau. Kemenangan pemerintah lainnya adalah menjaga agar
jumlah perokok tidak naik, berkurangnya anak-anak yang kecanduan, serta
mengurangi biaya kesehatan.
Hasil pajak tembakau ini juga dimanfaatkan antara lain untuk biaya pembangunan konstruksi Mass Rapid System baik Subway maupun kereta layang senilai 170,000 juta Baht serta pembangunan berbagai sarana bagi publik.
Menurut Prof. Prakit Vathesatogkit,M.D. dari National Committee for Control of Tobacco Use Thailand
, pajak merupakan cara paling efektif dalam pengendalian tembakau.
“Tidak ada biaya yang harus dikeluarkan pemerintah. Hanya memerlukan political will,” kata Prakit
Namun
upaya pemerintah Thailand tersebut bukan tanpa hambatan. Usulan
menaikkan pajak tembakau selalu mendapat tentangan keras dari Thailand Tobacco Monopoly (TTM) serta
perusahaan tembakau asing. Argumen yang selalu dikumandangkan sama
dengan yang didendangkan di Indonesia, yaitu: peningkatan pajak akan
meningkatkan penyelundupan, petani dan pekerja Thailand Tobacco Monopoly
akan kehilangan pekerjaan, dan pemerintah Thailand akan kehilangan
pendapatan.
Fakta
menunjukkan hal sebaliknya dari yang didengungkan industri tembakau.
Peningkatan pajak tembakau justru menstabilkan volume penjualan rokok,
kenaikan penerimaan pajak, turunnya total jumlah perokok, serta
penurunan lebih dari 50% prevalensi merokok pada perokok muda
Pada tahun 1988 ini, kabinet pemerintahan menggulirkan peraturan mengenai larangan menyeluruh (total ban)
bagi TTM (pemegang hak monopoli tembakau Thailand) beriklan. Larangan
juga berlaku bagi seluruh iklan rokok produk luar negeri baik langsung
maupun tidak langsung, di tengah tekanan Departemen Perdagangan Amerika
Serikat, untuk membuka pasar seluas-luasnya untuk masuknya rokok-rokok
produksi Amerika
Tahun
1989, produk tembakau dikategorikan sebagai “Produk Berbahaya” sehingga
pemerintah kabinet ini dikenal membuat peraturan yang lengkap. Pada
tahun yang sama dibentuk Komite Nasional bagi Pengendalian Penggunaan
Tembakau/National Committee for Control of Tobacco Use (NCCTU) dengan tugas menyusun kebijakan resmi mengenai industri tembakau.
Keberhasilan
kampanye pengendalian tembakau di Thailand selain karena adanya
dukungan pemerintah yang kuat, kemasan program yang diusung bersifat
tematik dan berkelanjutan dengan payung besar kampanye “Thailand Bebas
Asap Rokok/Smoke Free Thailand” juga amat berperan. Untuk mendukung pemenuhan (compliance) terhadap
undang-undang dan peraturan yang melarang merokok di tempat-tempat
public dan ruang kerja/perkantoran, ASH Thailand telah menjalankan
program-program sebagai berikut:
Program Kampanye Ruang Kerja Bebas Rokok memberikan pembelajaran kepada publik dan manajer-manajer di tempat kerja mengenai bahayanya perokok pasif (secondhand smoke),
Undang-undang Pengendalian Tembakau, serta bagaimana menerapkan
pembatasan merokok di ruangan kerja, serta memberikan penyuluhan secara
langsung bagi mereka yang ingin menghentikan kebiasaan merokok.
Pada Program kampanye Restoran-Restoran Bebas Rokok (The Smoke-free Restaurants), ASH
Thailand menginformasikan kepada para pemilik jasa ini mengenai
pembatasan merokok di restoran-restoran, sejalan dengan hukum yang
berlaku di Thailand. ASH Thailand dalam kampanye ini menyediakan tanda
larangan merokok dan menandai kawasan-kawasan tempat larangan merokok
diberlakukan.
Rumah Sakit Bebas Rokok,
ASH Thailand bekerja dengan lebih dari 500 rumah sakit di seluruh
negeri untuk mendukung terciptanya fasilitas kesehatan publik bebas asap
rokok ini, baik melalui pemberian pelatihan, asistensi teknis maupun
materi kampanye. ASH Thailand juga membantu pengembangan kapasitas para
professional kesehatan serta memainkan peran yang lebih aktif lagi dalam
pengendalian tembakau melalui program penghentian dan pencegahan.
Sekolah Bebas Rokok adalah
salah satu kampanye pertama yang dilakukan ASH Thailand. Undang-undang
yang melarang merokok di sekolah dan berlaku tahun 1992. ASH Thailand
banyak melakukan program kepemudaan serta mendukung pembentukan proyek
“Guru Menentang Tembakau” di mana merokok secara total di larang di
seluruh lingkungan sekolah sejak tahun 2006.
Kuil Bebas Rokok merupakan
kampanye yang ditujukan untuk membantu para biksu berhenti merokok dan
membuat mereka berani menyatakan bahwa kuilnya bebas asap rokok, serta
mempromosikan tidak merokok sebagai gaya hidup orang Budha. ASH
melaksanakan keduanya, baik melalui workshop besar maupun yang kecil
bagi para biksu serta memberikan para biksu tersebut materi kampanye.
Melalui
Kampanye Olah Raga bebas rokok, kegiatan olah raga di Thailand sudah
bebas dari iklan maupun sponsor rokok. Hal ini sejalan dengan kampanye
yang diluncurkan Badan kesehatan dunia, World Health Organization tahun
2002. ASH telah menerapkan kampanye ini untuk digunakan secara nasional
dengan tujuan agar organisasi olahraga, dan atlet berani menyatakan
diri sendiri bebas rokok.
Thailand
juga mejalankan proyek Mengekspos Strategi Pemasaran Industri Tembakau
termasuk upaya-upaya yang mereka lakukan untuk menghindari pelarangan
menyeluruh terhadap iklan tembakau. Termasuk dalam proyek ini juga upaya
mendukung lembaga-lembaga agar berani menyatakan tidak untuk
bekerjasama ataupun menerima dukungan apapun dari perusahaan-perusahaan
tembakau.
Program
Perempuan Thailand tidak Merokok dibentuk tahun 1995 untu memerangi
meningkatnya prevalensi jumlah perokok di kalangan perempuan muda
Thailand serta untuk memperkuat nilai-nilai tradisional tidak merokok di
kalangan perempuan Thailand.
SMART Journal merupakan
media bulanan yang berisi informasi terkait dengan pengendalian
tembakau yang ada saat ini termasuk berita-berita mengenai tembakau baik
internasional maupun lokal, angka-angka statistik tentang tembakau,
analisis isu-isu, serta ide-ide kampanye pengendalian tembakau.
Sirkulasi saat ini mencapai 10,000 eksemplar di seluruh Thailand.
Dibentuknya
Pusat Sumberdaya Pengendalian Tembakau untuk mendukung seluruh materi
pendidikan bagi jaringan pengendalian tembakau di seluruh negeri. Factsheet, poster, stiker, booklets, dan materi-materi multi media disusun dan disebarkan secara cuma-cuma kepada mitra-mitra.
Pendirian Pusat Informasi Pengendalian Tembakau ASH Thailand yang ditujukan untuk menyediakan dan menyuplai materi dalam bentuk elektronik maupun hard copy mengenai
berbagai informasi tentang pengendalian tembakau untuk digunakan di
Thailand dan luar negeri. Termasuk Website ASH Thailand www.ashthailand.or.th dalam
dua bahasa Inggris dan Thai, berisi informasi terkait pengendalian
tembakau untuk anggota masyarakat, para advokat pengendalian tembakau
serta akademisi.
Pendirian
Quitline 1600 yang merupakan layanan konsultasi melalui telepon bagi
para perokok dan beroperasi dengan dukungan perusahaan telekomunikasi
telepon Thailand. Quitline memberikan informasi, penyuluhan serta
memberikan motivasi positif bagi perokok yang ingin berhenti.
Melalui
Pembangunan Kapasitas bagi Jaringan Pengendalian Tembakau, ASH
menggelar program pelatihan bagi anggota jaringan pengendalian tembakau
mengenai bagaimana berhubungan dengan media, menghentikan kebiasan
merokok serta advokasi pada kebijakan.
Program
Jaringan Guru Menentang Tembakau dimaksudkan untuk membangun kapasitas
di antara para guru sehingga sekolah dapat terlibat dalam pengendalian
tembakau secara efektif. ASH mendukung pengembangan materi pengajaran
bagi sekolah-sekolah dasar dan telah diadopsi dalam kurikulum sekolah
oleh Menteri Pendidikan.
Proyek Kepedulian terhadap Anak-anak bertujuan
menjaga anak-anak dari paparan asap rokok dan menjadi perokok pasif,
baik melalui upaya agar para orang dewasa membiasakan diri untuk tidak
merokok di area di mana ada anak-anak kecil serta mendidik anak-anak
agar berani meminta para perokok dewasa untuk berhenti. Hal ini sudah
diterapkan di TK (taman kanak-kanak) dan media
Hong Kong
Hong
Kong merupakan salah satu negara yang juga berhasil menerapkan
pengendalian tembakau yang efektif di dunia. Hong Kong juga mengalami
fase panjang dalam upayanya menerapkan pengendalian tembakau yang
efektif. Pemerintah Hong Kong sangat peduli terhadap peningkatan
prevalensi perokok di masyarakatnya.
Hong Kong mengalami prevalensi jumlah perokok yang mengkhawatirkan.
Tabel: Populasi Perokok di Hong Kong
Tahun 1993 1996 1998 2000 2003 2005 2008
Lelaki 623,800 660,300 726,300 589,900 710,500 678,90 571,000
Perempuan 63,200 80,100 78,800 102,600 107,800 114,300 105,900
Total 687,000 740,400 805,100 692,500 818,200 793,200 676,900
Survey Thematic Household Survey Report No. 36, Departemen Sensus dan Statistik, Pemerintah Hong Kong, mencatat sedikitnya terdapat 676,900
perokok, baik perokok harian maupun sewaktu-waktu, pada tahun 2008,
atau 11.8% dari jumlah penduduk yang berumur 15 tahun ke atas.
Sementara
tahun 2006, 20.5% laki-laki dan 3.6% perempuan merupakan perokok rutin
harian di mana 64.8% dari perokok rutin tersebut mulai merokok pada usia
19 tahun. Rata-rata laki-laki menghabiskan 14 batang rokok sehari,
sementara perempuan menghabiskan 11 batang rokok per hari.
Data-data tersebut juga menjelaskan, sedikitnya 5,700
orang meninggal tiap tahunnya akibat merokok, atau diperkirakan
membunuh 16 orang per hari. Merokok penyebab 90% kematian pada
laki-laki akibat kanker paru-paru. Pada tahun 2000, hampir 34,500 orang
membutuhkan perawatan rumah sakit karena penyakit akibat merokok.
Peningkatan
prevalensi penyakit akibat merokok membuat pemerintah Hong Kong
mengkalkulasi biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan
penyakit-penyakit akibat merokok tersebut, seperti di bawah ini:
Biaya
yang secara langsung dikeluarkan untuk perawatan perokok aktif dan
pasif termasuk perawatan rumah sakit untuk orang dewasa mencapai Hk$1.9
Miliar dan biaya tambahan untuk tambahan kunjungan dokter mencapai
Hk$710 juta;
Biaya
perawatan untuk anak-anak yang terpapar asap rokok atau menjadi perokok
pasif mencapai Hk$33 juta; Sementara biaya perawatan baik di rumah
maupun untuk memanggil perawat ke rumah untuk penyakit akibat merokok
sebesar Hk$920 juta per tahun
Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah Hongkong dan mitra-mitra pemerintah dalam pengendalian tembakau antara lain:
Dikeluarkannya
Peraturan mengenai Kesehatan Masyarakat, yang ditetapkan tahun 1982 dan
ditujukan untuk mengendalikan serta mengawasi penggunaan tembakau
melalui:
Larangan merokok di ruang publik
Pembatasan penjualan produk-produk tembakau
Pembatasan Promosi dan iklan tembakau
Amandemen
Peraturan ini sudah dilakukan sebanyak 7 kali, dan amandemen terakhir
telah di setujui Dewan Legislatif pada 19 Oktober 2006
Pemerintah
Hong Kong sendiri menangani masalah prevalensi merokok ini secara
serius, bahkan untuk itu mereka membuka kantor khusus pengendalian
tembakau di bawah naungan departemen kesehatan pada Februari 2001 untuk
meningkatkan dan mengkoordinasikan upaya-upaya pengendalian tembakau
pemerintah, dengan fungsi-fungsi sebagai berikut:
Bertindak sebagai lembaga penegak prinsip di bawah Ordonansi tentang Rokok (kesehatan masyarakat) (Cap. 371)
Membantu manager masing-masing venue yang
berstatus “kawasan dilarang merokok” untuk memastikan penerapan
keterbukaan berdasar ordinansi merokok (kesehatan masyarakat) (Cap. 371)
·
Untuk mendukung terciptanya budaya bebas merokok dan meningkatkan
keterbukaan terhadap ordonansi tentang rokok (kesehatan publik) (Cap.
371) melalui publikasi dan pendidikan kesehatan
· Untuk mengkoordinasikan layanan berhenti merokok Departemen Kesehatan
· Untuk membantu Biro Kesehatan dan Makanan dalam meninjau kembali legislasi pengendalian tembakau.
Badan ini memiliki visi “mendukung terwujudnya budaya bebas rokok di Hong Kong untuk menjaga kesehatan masyarakat”
Beberapa Milestone Perjalanan Hong Kong berperang Melawan tembakau
Kurun 1982 – 1989
Pelarangan Iklan dan Promosi Tembakau
1987
Peringatan
kesehatan tertulis diminta agar dipasang secara menyeluruh tidak hanya
pada akhir tayangan iklan untuk TV dan bioskop tetapi juga ada
standardisasi peringatan kesehatan melalui suara pada akhir iklan
tersebut.
1988,
Hong Kong menerapkan pelarangan iklan rokok dan sponsorhip pada tayangan TV pukul 4:00 sore hingga 10:30 malam
Larangan Merokok di Ruang Publik
Tahun 1983
lembaga ini mengajukan angkutan public dan dek bagian bawah dari kendaraan transportasi darat sebagau daerah bebas rokok
Kawasan
bebas rokok harus diterapkan di bioskop, teater, gedung konser. Dan
sejumlah tanda larangan berbahasa Inggris dan Cina yang memadai harus
diletakkan sekaligus untuk menandakan bahwa merokokdi larang di kawasan
ini.
Kurun 1990 - 1996
Larangan Penjualan Produk-Produk Tembakau
1993-
Hong Kong melarang penjualan rokok dengan kadar tar yang melebihi 20mg
1995
seluruh
kemasan dan bungkus produk-produk tembakau (termasuk rokok, cerutu atau
tembakau pipa) diharuskan memajang tulisan peringatan kesehatan dan
harus di pajang sesuai dengan ketentuan.
Setiap produk tembakau tanpa tulisan peringatan kesehatan akan disita
Larangan Promosi dan Iklan Tembakau
1990,
Larangan menyeluruh (total ban) terhadap iklan dan sponsor rokok pada TV dan radio
1992,
Larangan iklan rokok di bioskop
1994
Iklan rokok di media cetak, billboard dan harus memuat peringatan kesehatan setidaknya 20% dari luas iklan tersebut
1995,
Meminta
para penjaja retail memajang tanda yang menjelaskan kepada publik
mengenai larangan menjual dan memberikan produk tembakau kepada orang di
bawah usia 18 tahun.
Larangan Merokok di Ruang Publik
1992
Menentukan ruang bebas rokok di tempat-tempat sebagai berikut:
Bioskop
Teater
Gedung Konser
Angkutan Publik
Pusat permainan
Seluruh angkutan transportasi
Kurun 1998 - 2000
Larangan Penjualan Produk Tembakau
1998
Larangan penjualan produk-produk tembakau melalui mesin otomatis.
Produk tembakau tidak dapat dijual sebagai hadiah, cindera mata, tiket undian yang dapat ditukarkan sebagai hadiah
1999
Larangan penjualan paket rokok yang isinya kurang dari 20 batang rokok.
Larangan kadar batas maksimal Tar yang dihasilkan rokok diturunkan dari 20 mg menjadi 17 mg
Larangan Promosi dan Iklan Tembakau
1998
Larangan iklan tembakau di internet
Larangan pemberian produk-produk tembakau ke siapapun (umur berapapun) untuk tujuan promosi
1999
Larangan pemasangan iklan tembakau di tempat terbuka
Larangan sponsorships dengan nama merek rokok
Larangan iklan tembakau di media cetak
Larangan Merokok di Ruang Publik
1998
Seluruh
restoran, sekolah, perguruan tinggi, sekolah teknik, dapat menandai
seluruh atau sebagian tempat-tempat yang dianggap penting sebagai
kawasan tanpa rokok
Seluruh
areal terbuka untuk publik di Supermarket, bank, departemen store atau
mall perbelanjaan, ditentukan sebagai kawasan tanpa rokok.
Pimpinan otoritas Bandar Udara dapat menandai tiap areal di kompleks terminal penumpang sebagai kawasan tanpa rokok
1999