Foto tua

Sebuah album foto tua kubuka. Terlihat foto foto hitam putih masih jelas dan lengkap di tiap halamannya meski sudah mulai menguning.

Hampir semua foto keluargaku ada, mulai dari kakek nenek dari pihak ibu maupun bapakku hingga tante dan oom oomku. Bapakku memang paling apik dalam soal dokumentasi.

Kuperhatikan foto foto satu persatu. Ada sebuah foto yang menarik perhatianku. Tergambar di sana bapakku bersama teman-teman semasa SMA di Jogja  menaiki 6 sepeda onthel berpose di pinggir pantai. Tertulis di bawahnya, Parangtritis 12 Desember 1953.

Yang membuatku semakin tertegun, ada tulisan tangan bapakku. 'Berfoto bersama teman teman merupakan suatu kenangan langka dan indah yang tak mungkin kembali' Diakhiri dengan tulisan nama beliau.

Pernah dulu kutanyakan semasa beliau masih ada, apakah masih ingat dengan teman teman di foto itu? Bapakku menyebut mereka satu persatu.

Wah luar biasa, daya ingat orang tua yang pada tahun 2005 sudah berumur 68 tahun itu. Tapi bukan itu yang aku ingin sampaikan.

Bapakku mulai bercerita bahwa mereka sudah bersahabat sejak SMP. Dan latar belakang mereka juga berbeda. Ada 3 orang yang berbeda agama dan dua orang etnis cina. Mereka tetap baik dan bersahabat meski berhubungan sebatas surat. Dan setelah puluhan tahun berlalu, kesibukan membatasi hubungan mereka.

Mereka sudah tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Terakhir waktu bapak di Lampung masih kontak dengan pak Anton, katanya. Ada getar lirih nada yang keluar dari bibir bapak. Getar kerinduan setelah membuka kembali album foto itu.

Berfoto bersama merupakan momen yang langka saat itu. Sehingga setiap acara benar benar dipersiapkan seperti sesuatu yang sakral sifatnya.
Sehingga setiap saat kebersamaan dengan sahabat selalu dinantikan untuk diabadikan.

Kini bapakku sudah tiada. Aku mulai merenungkan kembali kata kata dalam album foto itu.

Membayangkan bahwa saat ini kedahsyatan suatu momen foto bersama seperti kehilangan roh nya. Kemajuan teknologi media digital membuat foto sebagai hal yang biasa. Kapan saja bisa mejeng berfoto, sehingga seringkali momen menjadi tidak penting. Hasil foto diposting dimana saja whatsapp, facebook, instagram, bbm, lengkap dengan caption sekaligus kolom untuk komentar.

Suatu momen dapat dinikmati semua orang yang terhubung.

Namun yang menyakitkan, ketika politik dan agama kian membuat sekat dan menjadikan teman teman yang dulu karib seperti musuh. Komentar untuk saling menjatuhkan karena merasa paling benar justru sebuah kesalahan. Masing masing pihak mengklaim suatu kebenaran. Hasilnya? Ya paling benar sendiri.

Kini foto foto kebersamaan yang pernah ada seperti tidak sinkron lagi karena perbedaan. Perasaan kian berjarak. Meski media sosial dan teknologi sudah menghilangkan jarak fisik.

Aku membayangkan bapakku menyimpan kenangan indah bersama teman temannya dalam setumpuk album tua dan keindahan yang terus abadi dalam ingatannya bersama teman teman yang tulus berteman tanpa prasangka terhadap pandangan politik maupun agama.

Paradoks memang.